Redaksibengkulu.co.id – Jaringan kopi global terkemuka, Starbucks, kembali mengambil langkah strategis besar dengan mengumumkan penutupan sekitar 250 gerainya di wilayah Amerika Utara. Keputusan ini, yang diperkirakan akan menelan biaya restrukturisasi fantastis mencapai US$300 juta atau setara Rp5,37 triliun (dengan kurs Rp17.930/dolar AS), merupakan bagian dari strategi komprehensif perusahaan untuk memulihkan bisnis dan mengoptimalkan kinerja.
Dijadwalkan berlangsung dalam beberapa hari ke depan, penutupan ini secara khusus menyasar gerai-gerai yang dinilai berkinerja buruk atau tidak lagi memberikan pengalaman yang diharapkan bagi pelanggan dan mitra kerja. "Gerai yang terdampak tidak memberikan pengalaman yang kami inginkan bagi pelanggan dan mitra atau tidak layak secara finansial," demikian pernyataan resmi perusahaan yang dikutip Redaksibengkulu.co.id pada Jumat (25/9/2026).

Secara keseluruhan, 250 gerai yang ditutup ini hanya mencakup sekitar 1% dari total 18.000 lokasi Starbucks yang tersebar di Amerika Utara. Ini bukan kali pertama raksasa kopi ini melakukan perampingan serupa di kawasan tersebut.
Also Read
Berdasarkan laporan regulasi yang dirilis pada Kamis (24/9), mayoritas biaya restrukturisasi, sekitar US$200 juta, akan dialokasikan untuk pengakhiran sewa tempat lebih awal dan pesangon bagi para karyawan yang terdampak. Meskipun daftar lengkap lokasi gerai yang akan ditutup belum dirilis, Starbucks memastikan pengumuman resmi akan dipasang di gerai-gerai terkait akhir pekan ini, dan pembaruan akan langsung terlihat di aplikasi seluler perusahaan.
Meski melakukan penutupan, Chief Operating Officer (COO) Starbucks, Mike Grams, tetap menyampaikan optimisme tinggi terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang. Dalam suratnya kepada karyawan, Grams menegaskan antusiasmenya terhadap peluang ekspansi yang signifikan di Amerika Utara. Starbucks juga berkomitmen untuk terus membuka gerai-gerai baru di lokasi yang lebih strategis, meskipun target pembukaan global untuk tahun fiskal ini sedikit direvisi menjadi 440 lokasi, turun dari target awal 600 hingga 650 gerai.
Langkah restrukturisasi serupa pernah dilakukan oleh CEO Starbucks sebelumnya, Brian Niccol, yang pada tahun lalu juga menutup sejumlah gerai dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai bagian dari upaya restrukturisasi senilai US$1 miliar. Selama dua tahun masa jabatannya, Niccol telah memimpin rencana jangka panjang untuk merombak bisnis Starbucks, termasuk renovasi gerai, peningkatan kualitas layanan, dan penyederhanaan menu di Amerika Utara, demi mengembalikan perusahaan ke jalur pertumbuhan yang berkelanjutan.




