Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa Indonesia tengah mempertimbangkan tawaran investasi dari Tiongkok untuk mewujudkan proyek ambisius jaringan kereta api Trans-Kalimantan. Proyek infrastruktur vital ini direncanakan membentang sepanjang 2.772 kilometer, bertujuan untuk meningkatkan konektivitas di pulau yang kaya sumber daya alam tersebut. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi sebelumnya telah mengungkapkan bahwa Tiongkok, bersama dengan Rusia, telah menunjukkan minat kuat terhadap pembangunan jalur kereta api ini.
Redaksibengkulu.co.id mencatat, ketertarikan investor asing ini bukanlah hal baru. Pada Agustus 2025, Dudy Purwagandhi pernah mengemukakan adanya minat serius dari Tiongkok dan Rusia. Hingga kini, pemerintah Indonesia masih dalam tahap penjajakan intensif untuk menemukan skema kerja sama terbaik. Dorongan untuk mempercepat proyek Trans-Kalimantan juga datang dari Presiden Prabowo Subianto, yang pada Juli 2026 lalu menyoroti urgensi pembangunan ini saat meresmikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang. Kalimantan, yang juga merupakan lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN), saat ini belum memiliki jaringan kereta api umum yang beroperasi.

Potensi Tiongkok dalam proyek ini tidak diragukan. Siwage Dharma Negara, peneliti senior di ISEAS – Yusof Ishak Institute Singapura, berpendapat bahwa Tiongkok mampu menyediakan "ekosistem kereta api yang lengkap," meliputi aspek pembiayaan, keahlian teknik, teknologi mutakhir, hingga sumber daya manusia berpengalaman. Keberhasilan pembangunan Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung sepanjang 142,8 km di Jawa, yang merupakan bukti kapabilitas teknis Tiongkok, menjadi referensi penting. Namun, pengalaman proyek tersebut, termasuk tekanan finansial yang menyertainya, serta tantangan pada proyek metro bawah tanah di Bali, menuntut kehati-hatian ekstra dalam negosiasi.
Also Read
Di sisi lain, Tiongkok sendiri tengah merekalibrasi strategi investasi globalnya. Setelah periode panjang penyaluran pinjaman besar ke negara-negara berkembang, kini Beijing cenderung lebih selektif dan ketat dalam pembiayaan proyek infrastruktur. Laporan dari Pusat Keuangan Hijau dan Pembangunan Universitas Fudan mengindikasikan pergeseran fokus Tiongkok ke proyek-proyek berskala lebih kecil. Pembatalan proyek metro bawah tanah Bali senilai US$ 20 miliar, yang melibatkan China Railway Construction Corporation (CRCC) – kontraktor Kereta Cepat Jakarta-Bandung – juga menjadi sorotan. David Feng, seorang spesialis kereta api independen, menegaskan bahwa insiden ini "jelas berdampak pada CRCC" dalam perencanaan investasi masa depan di Indonesia.
Dengan segala dinamika ini, proyek Trans-Kalimantan bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan sebuah pertaruhan besar bagi konektivitas dan pengembangan ekonomi di salah satu pulau terpenting Indonesia. Kehadiran jaringan kereta api umum di Kalimantan, yang saat ini belum ada, akan menjadi katalisator bagi pertumbuhan, terutama mengingat statusnya sebagai lokasi Ibu Kota Nusantara. Oleh karena itu, negosiasi yang cermat dan transparan akan menjadi kunci keberhasilan proyek strategis ini.




