Waspada Rumor! Cek Fundamental Sebelum Investasi

Author Image

Hadi Wibawa

1 Oktober 2026, 14:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa dinamika di pasar modal menuntut investor untuk lebih jeli dalam membedakan antara informasi resmi dengan sekadar spekulasi. Di tengah ketidakpastian pasar, keterbukaan informasi dan kondisi fundamental perusahaan menjadi rujukan utama yang tidak boleh diabaikan agar investor tidak terjebak oleh rumor yang beredar.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menekankan pentingnya investor untuk selalu merujuk pada sumber resmi perusahaan. Menurutnya, sangat krusial bagi pelaku pasar untuk memverifikasi informasi material guna menghindari kesalahan pengambilan keputusan akibat sentimen pasar yang belum tentu benar.

Waspada Rumor! Cek Fundamental Sebelum Investasi
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Nafan juga mengingatkan agar investor tidak langsung menyimpulkan sebuah aksi korporasi hanya berdasarkan nilai transaksi yang besar di bursa. Ia menyarankan agar setiap transaksi ditelusuri lebih dalam, mulai dari pihak yang bertransaksi, pergerakan harga, volume, hingga keterbukaan informasi yang menyertainya.

"Investor perlu membedakan informasi material yang telah dikonfirmasi dengan spekulasi pasar," ujar Nafan dalam keterangan tertulisnya.

Salah satu sektor yang menjadi sorotan utama adalah sektor perbankan. Nafan menyebutkan bahwa di tengah fluktuasi ekonomi, indikator seperti profitabilitas, kualitas aset, dan pertumbuhan kredit menjadi kunci untuk melihat kesehatan sebuah emiten.

Sebagai contoh, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menunjukkan ketahanan fundamental yang sangat solid. Berdasarkan data, BCA mencatatkan laba bersih sebesar Rp 29,5 triliun pada semester I 2026, dengan pertumbuhan penyaluran kredit mencapai 8 persen secara tahunan menjadi Rp 1.036 triliun.

Kekuatan BCA juga terlihat dari struktur pendanaannya yang didominasi oleh dana murah (CASA) sebesar 84,3 persen dari total dana pihak ketiga. Selain itu, kualitas aset bank ini tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) di level 1,9 persen.

Secara historis, BCA menunjukkan tren pertumbuhan laba yang konsisten. Pada 2024, laba bersih tercatat Rp 54,8 triliun, dan terus meningkat menjadi Rp 57,5 triliun pada tahun 2025.

Selain kinerja keuangan yang positif, BCA juga aktif melakukan aksi pembelian kembali saham (buyback) untuk menjaga stabilitas harga saham di pasar. Program buyback senilai maksimal Rp5 triliun yang dilakukan sejak Maret 2026 hingga Maret 2027 ini dinilai sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap fundamental perusahaan di tengah volatilitas pasar.

Related Post