Prancis Membara! PNS & Mahasiswa Demo Besar

Author Image

Hadi Wibawa

4 Oktober 2026, 08:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa gelombang protes besar-besaran tengah melanda Prancis. Puluhan ribu Pegawai Negeri Sipil (PNS), mulai dari tenaga pendidik, petugas pemadam kebakaran, hingga tenaga medis, turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan kenaikan gaji serta menolak kebijakan anggaran pemerintah yang dinilai mencekik.

Berdasarkan data yang dihimpun, aksi mogok kerja satu hari ini melibatkan sekitar 300.000 orang di seluruh penjuru negeri pada Selasa (29/9). Sektor pendidikan menjadi salah satu yang paling terdampak, di mana Kementerian Pendidikan mencatat lebih dari 11% guru dan staf sekolah turut menghentikan aktivitas kerja mereka. Kondisi ini dipicu oleh ketimpangan upah, di mana guru-guru di Prancis rata-rata menerima pendapatan yang lebih rendah dibandingkan rekan sejawat mereka di negara-negara Eropa lainnya.

Prancis Membara! PNS & Mahasiswa Demo Besar
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Ketegangan ini bermula dari rencana pemerintah yang ingin menahan kenaikan gaji pokok PNS pada tahun 2027. Langkah ini diambil pemerintah dengan alasan penghematan anggaran sebesar 2 miliar euro atau setara Rp 40,26 triliun. Kebijakan ini disebut-sebut sebagai pembekuan upah tahunan keempat secara berturut-turut di bawah kepemimpinan Presiden Emmanuel Macron.

Sekretaris Jenderal Konfederasi Umum Buruh, Sophie Binet, menegaskan bahwa kebijakan pembekuan upah ini telah menggerus daya beli pekerja secara signifikan. Oleh karena itu, para pekerja menuntut adanya kenaikan upah sebesar 6% sebagai kompensasi atas penurunan kesejahteraan tersebut.

Aksi Mahasiswa Berujung Ricuh

Gelombang protes tidak berhenti pada aksi mogok PNS saja. Gerakan ini meluas ke kalangan pelajar dan mahasiswa yang menolak rencana anggaran pendidikan tahun fiskal mendatang. Dampaknya, lebih dari 400 institusi pendidikan, mulai dari sekolah menengah hingga perguruan tinggi, terpaksa ditutup pada Jumat (2/10) akibat situasi yang tidak kondusif.

Aksi massa di berbagai kota dilaporkan berakhir ricuh. Bentrokan antara demonstran dengan aparat keamanan mengakibatkan puluhan orang luka-laku, termasuk 40 kepala sekolah menengah atas. Menteri Pendidikan Prancis, Edouard Geffray, mengonfirmasi bahwa polisi telah mengamankan sekitar 2.000 orang dalam rangkaian kerusuhan tersebut.

Kerusakan fisik akibat pembakaran dan perusakan fasilitas umum juga sangat masif. Di wilayah Auvergne-Rhone-Alpes, kerugian akibat kerusakan mencapai 25 juta euro atau sekitar Rp 503,25 miliar. Sementara itu, di wilayah Ile de France yang mencakup Paris, kerugian diperkirakan menyentuh angka 7 juta euro atau Rp 140,91 miliar.

Salah satu dampak paling nyata terlihat di Lycee Mandela, Nantes, yang mengalami kebakaran hebat di aula masuk dan diprediksi akan tutup hingga pertengahan Oktober mendatang. Protes ini dipicu oleh akumulasi kekecewaan terhadap kondisi bangunan sekolah yang buruk, kekurangan tenaga pengajar, serta minimnya bahan ajar di sekolah-sekolah Prancis.

Related Post