Redaksibengkulu.co.id – Menghadapi sesi wawancara kerja seringkali memicu rasa gugup, terutama ketika perekrut mulai melontarkan pertanyaan sensitif mengenai nominal gaji. Banyak pelamar merasa terjebak saat HRD menanyakan besaran upah yang mereka terima di perusahaan sebelumnya, padahal secara etika, pelamar sebenarnya tidak memiliki kewajiban mutlak untuk membukanya.
Menanggapi fenomena ini, Louise Rudd, Penasihat Senior dari layanan konsultasi kerja Acas, menjelaskan bahwa secara hukum tidak ada aturan yang melarang perusahaan menanyakan riwayat gaji maupun ekspektasi upah calon karyawan. Namun, ia menekankan pentingnya keadilan; jika perusahaan ingin mengetahui informasi tersebut, pertanyaan tersebut harus diajukan secara merata kepada seluruh kandidat tanpa terkecuali.

Di kancah internasional, isu ini sebenarnya telah menjadi perdebatan panjang. Melalui kampanye #EndSalaryHistory, organisasi seperti Fawcett Society menyuarakan kekhawatiran bahwa menanyakan gaji lama dapat melanggengkan kesenjangan upah yang dipicu oleh faktor gender, ras, hingga disabilitas. Praktik ini dinilai membuat standar gaji seseorang lebih ditentukan oleh kemampuan negosiasi masa lalu, bukan berdasarkan kompetensi dan kinerja nyata yang ditawarkan saat ini.
Also Read
Bahkan, di Uni Eropa, aturan terbaru telah melarang perusahaan untuk menanyakan riwayat gaji calon karyawan guna menciptakan persaingan kerja yang lebih sehat dan berbasis kemampuan.
Lantas, bagaimana strategi terbaik bagi pelamar untuk menjawabnya?
Meski pelamar diperbolehkan menjawab jika merasa nyaman, para ahli menyarankan agar kandidat tidak terjebak pada angka masa lalu. Alih-alih menyebutkan gaji lama, Anda disarankan untuk fokus pada ekspektasi gaji yang realistis berdasarkan riset pasar untuk posisi yang sedang dilamar.
Shazia Ejaz, Direktur Kampanye Konfederasi Perekrutan dan Ketenagakerjaan, menyarankan agar pencari kerja menghadapi pertanyaan ini dengan kepercayaan diri tinggi. "Kandidat harus mampu menunjukkan nilai tambah yang mereka bawa ke perusahaan. Datanglah ke sesi wawancara dengan riset mendalam mengenai standar gaji untuk peran tersebut," ungkapnya.
Dengan memahami nilai pasar dan mampu menjelaskan kontribusi nyata yang akan diberikan, pelamar akan berada di posisi tawar yang jauh lebih kuat untuk mendapatkan paket remunerasi yang layak dan adil.




