Damai atau Gimmick? Trump Bikin Harga Minyak Ambruk!

Damai atau Gimmick? Trump Bikin Harga Minyak Ambruk!

Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Keputusan mengejutkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menunda serangan militer ke fasilitas pembangkit listrik Iran pada Senin (23/3/2026) langsung mengguncang pasar global, menyebabkan harga minyak mentah dunia anjlok tajam. Penundaan ini datang setelah Trump mengisyaratkan adanya pembicaraan produktif dengan Teheran, sebuah langkah yang kontras dengan retorika agresifnya beberapa hari sebelumnya.

Dalam sebuah unggahan di platform Truth Social, Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat dan Iran telah terlibat dalam "percakapan yang sangat baik dan produktif selama dua hari terakhir" mengenai penyelesaian lengkap dan total permusuhan di Timur Tengah. Ia menambahkan bahwa diskusi krusial ini akan berlanjut sepanjang minggu. Sebagai tindak lanjut dari pembicaraan tersebut, Trump menginstruksikan Departemen Perang AS untuk menangguhkan semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari ke depan. Namun, penangguhan ini diberikan dengan catatan penting: "Tergantung pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung."

Damai atau Gimmick? Trump Bikin Harga Minyak Ambruk!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Respons pasar terhadap pengumuman ini tak terhindarkan dan dramatis. Harga minyak dunia langsung merosot lebih dari 13% pada perdagangan Senin. Harga minyak Brent berjangka, salah satu patokan global, anjlok sekitar US$17 atau sekitar 15%, mencapai level US$96 per barel pada pukul 11:08 GMT. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS, patokan utama lainnya, juga tercatat turun signifikan sebesar US$13 atau sekitar 13,5%, menyentuh level terendah sesi di US$85,28.

COLLABMEDIANET

Perubahan dramatis sikap Trump ini terjadi hanya dua hari setelah ia mengancam akan membombardir pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz pada Senin malam. Ancaman tersebut sempat memicu kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah, yang pada gilirannya membuat harga minyak melonjak pada Minggu dan berlanjut hingga Senin pagi sebelum perkembangan terbaru ini muncul.

Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran telah merespons ancaman Trump dengan tegas. Mereka menyatakan akan membalas serangan terhadap pembangkit listriknya dan juga akan menutup Selat Hormuz tanpa batas waktu jika diserang. "Jika Anda menyerang listrik, kami akan menyerang listrik," tegas IRGC dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh kantor berita semi-resmi Fars pada Senin.

Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak Iran mengenai versi kejadian yang disampaikan Trump, termasuk detail "percakapan produktif" yang diklaim. Ketidakjelasan ini meninggalkan pertanyaan besar tentang keberlanaran "perdamaian" yang diisyaratkan dan seberapa stabil situasi di Timur Tengah pasca-pengumuman mengejutkan dari Washington.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar