Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa pemerintah militer Myanmar telah mengambil langkah drastis dalam menghadapi potensi krisis bahan bakar minyak (BBM). Mulai pekan depan, sistem barcode dan QR code akan diberlakukan secara nasional untuk mengontrol pembelian BBM, menyusul kekhawatiran serius akan kelangkaan pasokan yang diperparah oleh situasi geopolitik di Timur Tengah.
Kebijakan baru ini, yang dikutip Redaksibengkulu.co.id dari laporan Straits Times dan Bloomberg pada Selasa (24/3/2026), akan membatasi konsumen untuk membeli BBM hanya satu hingga dua kali dalam seminggu. Jumlah pembelian juga akan disesuaikan dengan kapasitas mesin kendaraan, menandai upaya ketat pemerintah dalam mengelola sumber daya energi yang semakin menipis.
Pembatasan ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, Kementerian Energi Myanmar telah mengeluarkan imbauan untuk membatasi penggunaan kendaraan pribadi. Sektor penerbangan pun tak luput dari dampak kelangkaan, dengan beberapa maskapai terpaksa menangguhkan sementara rute domestik akibat minimnya pasokan avtur.

Related Post
Mekanisme baru ini akan mengintegrasikan barcode pada dokumen kepemilikan kendaraan—baik mobil, truk, maupun sepeda motor—dengan sistem QR code yang secara otomatis menentukan kuota pembelian BBM. Implementasi awal telah terlihat di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kota-kota besar seperti Yangon dan Naypyidaw sejak 12 Maret lalu, sebagai uji coba sebelum diberlakukan secara menyeluruh.
Bagi pengemudi jarak jauh, pemerintah memberikan kelonggaran untuk membeli BBM di luar kota domisili dengan syarat menunjukkan bukti transaksi sebelumnya. Namun, kebijakan ini datang di tengah lonjakan harga BBM dan spekulasi kelangkaan yang telah memicu antrean panjang di SPBU-SPBU di berbagai penjuru kota, menciptakan ketidakpastian di kalangan masyarakat.
Sebagai respons, junta militer juga telah menginstruksikan seluruh pegawai negeri untuk bekerja dari rumah setiap hari Rabu, efektif mulai 25 Maret, dalam upaya penghematan energi nasional. Di sektor lain, Federasi Beras Myanmar (Myanmar Rice Federation) turut menyerukan kepada penggilingan padi dan petani untuk menghemat bahan bakar dan mempertimbangkan penggunaan energi surya sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan.
Kementerian Energi Myanmar mengklaim negara tersebut masih memiliki cadangan BBM untuk sekitar 50 hari ke depan, sembari terus berupaya mengamankan impor tambahan melalui jalur-jalur alternatif. Untuk mendukung upaya ini, bank sentral Myanmar bulan ini bahkan telah mengalokasikan devisa sebesar US$96 juta kepada perusahaan minyak dengan kurs yang lebih rendah, bertujuan mempermudah proses impor bahan bakar dari luar negeri dan menstabilkan pasokan domestik.









Tinggalkan komentar