Redaksibengkulu.co.id – Mata uang rupiah kembali menjadi sorotan tajam setelah menunjukkan tren pelemahan signifikan sepanjang Februari, memicu kekhawatiran akan potensi menembus level psikologis Rp 16.900 per dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan ini tidak lepas dari peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait transparansi pasar modal Indonesia, yang dirilis pada 28 Januari lalu, serta sejumlah sentimen negatif lainnya.
Ibrahim Assuaibi, seorang Pengamat Mata Uang dan Komoditas, menjelaskan bahwa gejolak rupiah ini erat kaitannya dengan peringatan MSCI dan langkah pemangkasan peringkat kredit oleh lembaga internasional Moody’s. Menurutnya, upaya pemulihan kondisi pasar modal yang membutuhkan waktu panjang ini telah menjadi beban sentimen negatif bagi pergerakan rupiah. "Untuk melihat rupiah kembali stabil, kita harus menunggu pencabutan pembekuan (rebalancing MSCI) dan perbaikan rating. Itu kemungkinan besar baru terjadi di bulan Mei. Inilah yang menyebabkan fluktuasi tajam pada mata uang kita," terang Ibrahim kepada redaksibengkulu.co.id, pada Selasa (17/2/2026).
Pelemahan rupiah juga diperparah oleh kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turut tertekan. Meskipun pelemahannya tidak terlampau drastis, hanya sekitar 0,64% ke level 8.212,27 pada perdagangan terakhir, Ibrahim menilai ini sebagai sinyal kuat bahwa rupiah akan terus melemah sepanjang Februari, bahkan berpotensi menyentuh angka Rp 16.900. Data RTI Business juga menunjukkan adanya aksi jual bersih (net foreign sell) oleh investor asing sebesar Rp 2,03 triliun pada Jumat, dengan akumulasi mencapai Rp 14,46 triliun sepanjang tahun 2026, menambah tekanan pada pasar modal domestik.

Related Post
Selain faktor domestik, Ibrahim juga menyoroti pengaruh sentimen global yang signifikan. Negosiasi nuklir antara AS dan Iran di Jenewa, serta pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden AS Donald Trump yang membahas tarif impor, turut menjadi perhatian pasar. Meskipun kesepakatan tarif 19% antara kedua negara telah tercapai, kekhawatiran terbesar datang dari potensi pelebaran defisit anggaran. Ini dipicu oleh kesepakatan impor minyak mentah dalam jumlah besar dari AS, sebuah langkah yang tidak biasa mengingat Indonesia selama ini mengandalkan pasokan dari negara-negara OPEC dan Rusia. "Keputusan ini berpotensi memperlebar defisit anggaran kita, mengingat selama ini kita tidak mengimpor minyak mentah dari Amerika," jelas Ibrahim, menggarisbawahi dampak ekonomi dari kebijakan tersebut.
Sementara itu, Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memprediksi pelemahan rupiah akan berlanjut mulai Rabu (18/2). Ia menjelaskan bahwa kondisi ini diperparah oleh minimnya likuiditas pasar akibat libur panjang. "Pergerakan mata uang cenderung sulit diprediksi di tengah periode liburan dan likuiditas yang terbatas. Dolar AS memang masih menguat, meski tidak terlalu signifikan, namun rupiah masih sangat terbebani oleh sentimen domestik," ujar Lukman kepada redaksibengkulu.co.id, Selasa (17/2/2026). Mengenai negosiasi nuklir AS-Iran, Lukman menambahkan bahwa dampaknya belum terasa signifikan. Investor masih menanti hasil pertemuan tersebut, yang berpotensi memengaruhi









Tinggalkan komentar