Rupiah Terjun Bebas! Ada Apa di Balik Layar?

Rupiah Terjun Bebas! Ada Apa di Balik Layar?

Redaksibengkulu.co.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan signifikan, memicu kekhawatiran di pasar keuangan domestik. Kondisi ini dipicu oleh serangkaian sentimen negatif global dan domestik, termasuk peringatan transparansi dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) serta pemangkasan peringkat kredit oleh lembaga pemeringkat internasional Moody’s. Tak hanya rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun turut merasakan tekanan, menambah daftar tantangan bagi perekonomian Indonesia.

Sejak MSCI mengeluarkan peringatan mengenai transparansi pasar modal Indonesia pada Rabu, 28 Januari, rupiah telah kehilangan gairahnya. Kala itu, mata uang Garuda berada di posisi Rp 16.722 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg yang dihimpun Redaksibengkulu.co.id, tren pelemahan terus berlanjut hingga 17 Februari, di mana dolar AS bergerak naik terhadap rupiah dari rentang Rp 16.722 ke Rp 16.837, atau sekitar 0,69%.

Rupiah Terjun Bebas! Ada Apa di Balik Layar?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah ini adalah konsekuensi langsung dari peringatan MSCI dan penurunan rating kredit oleh Moody’s. "Untuk (rupiah) kembali normal, kita harus menunggu pencabutan pembekuan (rebalancing MSCI) dan perbaikan rating ini, yang kemungkinan besar terjadi di bulan Mei. Artinya, ini yang membuat fluktuasi mata uang rupiah," ujar Ibrahim kepada Redaksibengkulu.co.id pada Selasa (17/2/2026). Ia juga menyoroti kondisi IHSG yang turut melemah, tercatat di level 8.212,27 atau turun 0,64% berdasarkan data perdagangan RTI Business. Ibrahim memprediksi rupiah masih berpotensi melemah hingga Rp 16.900-an sepanjang Februari ini.

COLLABMEDIANET

Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, yang dihubungi terpisah, melihat koreksi IHSG dalam jangka pendek akan lebih dipengaruhi oleh dinamika negosiasi nuklir antara AS dan Iran di Jenewa. "Jika tensi meningkat dan memicu lonjakan harga minyak serta kehati-hatian di emerging markets, IHSG berpotensi lanjut terkoreksi terbatas," ungkap Reydi. Namun, ia menekankan bahwa reformasi pasar modal yang digalakkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap menjadi sentimen positif yang menopang IHSG. Menurutnya, pasar berpeluang bergerak mixed dengan potensi technical rebound jika eskalasi geopolitik tidak signifikan.

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menawarkan perspektif jangka panjang yang lebih optimis. Menurutnya, pergerakan IHSG masih cukup prospektif, terutama menjelang periode Ramadan dan Idul Fitri. "Kalau kita lihat secara rata-rata beberapa tahun terakhir, IHSG masih dalam keadaan positif ya, masih relatif bullish. Jadi, faktor pelemahan IHSG pada Februari itu sebenarnya bisa dijadikan momentum untuk mencermati saham-saham yang berfundamental solid," jelas Nafan. Respons positif pasar terhadap reformasi pasar modal juga menjadi salah satu pilar penguatan IHSG.

Dengan demikian, meskipun rupiah dan IHSG menghadapi tekanan jangka pendek dari sentimen global dan domestik, upaya reformasi pasar modal yang berkelanjutan diharapkan dapat memberikan fondasi yang kuat untuk pemulihan dan pertumbuhan di masa mendatang.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar