Ultimatum Trump ke Iran: Perang atau Damai? Minyak Meroket!

Ultimatum Trump ke Iran: Perang atau Damai? Minyak Meroket!

Redaksibengkulu.co.id – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai titik didih setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan akan mengambil keputusan krusial terkait kemungkinan serangan militer terhadap Iran dalam 10 hari ke depan. Pernyataan mengejutkan ini langsung memicu gejolak di pasar komoditas global, dengan harga minyak mentah yang melonjak tajam akibat kekhawatiran akan pecahnya konflik berskala besar.

"Kita mungkin harus melangkah lebih jauh, atau mungkin tidak. Mungkin kita akan mencapai kesepakatan," ujar Trump, seperti dikutip dari CNBC pada Jumat (20/2/2026). Ia menambahkan bahwa mencapai kesepakatan yang berarti dengan Iran selalu menjadi tantangan. "Terbukti selama bertahun-tahun tidak mudah untuk membuat kesepakatan yang berarti dengan Iran. Kita harus membuat kesepakatan yang berarti. Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi," ancam Trump, menegaskan urgensi situasi.

Ultimatum Trump ke Iran: Perang atau Damai? Minyak Meroket!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Respons pasar tak terhindarkan. Harga minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) langsung meroket US$ 1,24 atau 1,9% menjadi US$ 66,43 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent, patokan internasional, juga naik US$ 1,31 atau 1,86% mencapai US$ 71,66 per barel. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran para pedagang akan potensi gangguan pasokan minyak global jika konflik benar-benar pecah di wilayah strategis tersebut.

COLLABMEDIANET

Sebelumnya, upaya diplomatik telah dilakukan. Utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, baru saja mengadakan pembicaraan dengan perwakilan Iran di Jenewa minggu ini, membahas program nuklir Teheran. Namun, Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa Iran belum menunjukkan respons positif terhadap batasan-batasan yang ditetapkan oleh pemerintahan Trump selama negosiasi tersebut.

Di tengah kebuntuan diplomatik, AS juga telah meningkatkan kehadiran militernya secara signifikan di Timur Tengah. Kapal induk USS Abraham Lincoln telah berada di kawasan tersebut, dan kapal induk kedua, USS Gerald Ford, dilaporkan sedang dalam perjalanan menuju wilayah yang sama, menunjukkan keseriusan Washington dalam menghadapi situasi ini.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengakui adanya beberapa kemajuan dalam pembicaraan di Jenewa, namun ia juga menegaskan bahwa masih ada sejumlah isu krusial yang menjadi perbedaan pendapat antara kedua belah pihak. "Banyak alasan dan argumen yang dapat diajukan untuk serangan terhadap Iran," kata Leavitt, mengindikasikan opsi militer tetap terbuka.

Sebagai respons, Garda Revolusi Iran sendiri telah menggelar latihan militer di Selat Hormuz minggu ini. Selat ini merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak global, dan latihan tersebut semakin memperparah kekhawatiran bahwa perang antara AS dan Iran dapat mengganggu aliran minyak mentah melalui jalur strategis tersebut, yang berpotensi memicu krisis energi global dan mengguncang perekonomian dunia.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar