Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa Saudi Aramco, raksasa minyak milik kerajaan Arab Saudi, kembali memangkas pasokan minyak mentah untuk pasar Asia pada bulan April. Ini merupakan pemangkasan kedua secara beruntun dalam dua bulan terakhir, sebuah langkah yang diambil di tengah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya dampak konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang mengancam jalur perdagangan krusial di Selat Hormuz.
Dalam kebijakan terbarunya, Aramco hanya akan memenuhi pasokan minyak jenis Arab Light yang dikirim dari pelabuhan Laut Merah di Yanbu bagi para pelanggan kontraknya di Asia. Kondisi ini secara langsung membatasi ketersediaan pasokan minyak mentah bagi kilang-kilang di benua tersebut. Meskipun demikian, perusahaan menegaskan komitmennya untuk tetap memenuhi kebutuhan para pelanggan setianya.
"Saudi Aramco terus berupaya memastikan pasokan energi yang andal, dengan mengoptimalkan penggunaan rute ekspor alternatif melalui Yanbu sebagai respons terhadap dinamika kondisi kawasan yang terus berkembang," demikian pernyataan resmi perusahaan, seperti dikutip dari Reuters. "Kami tetap teguh pada komitmen untuk memenuhi harapan pelanggan, dengan melakukan penyesuaian jadwal pengapalan sesuai situasi terkini, serta senantiasa memberikan informasi yang transparan kepada mereka."

Related Post
Data dari perusahaan analitik Kpler menunjukkan bahwa ekspor minyak mentah Arab Saudi sepanjang Maret tercatat sebesar 4,355 juta barel per hari, angka ini menurun signifikan dari 7,108 juta barel per hari pada Februari. Untuk mengkompensasi gangguan di Selat Hormuz, Arab Saudi kini secara aktif berupaya meningkatkan volume ekspor melalui Yanbu, dengan proyeksi volume pengapalan yang diperkirakan akan mencapai rekor tertinggi pada bulan Maret.
Sebagai contoh, Sinopec, salah satu kilang minyak terbesar di Tiongkok, dijadwalkan akan memuat 24 juta barel minyak Saudi dari Yanbu sepanjang bulan ini. Namun, upaya peningkatan ekspor melalui Yanbu ini sempat menghadapi tantangan. Aktivitas pengapalan di pelabuhan tersebut dilaporkan terganggu pada Kamis pekan lalu menyusul insiden jatuhnya sebuah drone di area kilang SAMREF, yang merupakan fasilitas milik Saudi Aramco.









Tinggalkan komentar