Redaksibengkulu.co.id – Di tengah gejolak global yang menyebabkan sejumlah negara tetangga Indonesia dilanda darurat energi akibat konflik di Timur Tengah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dengan tegas memastikan bahwa pasokan energi di Tanah Air masih dalam kondisi aman dan terkendali. Pernyataan menenangkan ini disampaikan Bahlil untuk menjamin stabilitas energi nasional.
Bahlil menyoroti kemandirian Indonesia dalam pasokan solar, sebuah komoditas vital. "Saya menyampaikan di kesempatan ini bahwa sekalipun negara-negara lain, negara tetangga sebagian, sebagian negara di Asia sudah mulai masuk dalam keadaan yang tidak diharapkan oleh hampir semua negara dalam hal ini darurat. Kita harus saya yakinkan kepada rakyat Indonesia bahwa solar kita Insyaallah tidak lagi kita lakukan impor. Jadi clear," ujarnya saat memberikan keterangan di SPBU Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, pada Kamis (26/3/2026), sebagaimana dirilis oleh Kementerian ESDM. Dengan tidak lagi mengimpor solar, kebutuhan dalam negeri dipastikan tidak akan terpengaruh oleh dinamika perang di Timur Tengah.
Meski demikian, Bahlil mengakui bahwa untuk kebutuhan bensin, Indonesia masih bergantung pada impor sekitar 50%, sementara sisanya dipenuhi dari produksi dalam negeri. Hal ini menunjukkan adanya upaya untuk menyeimbangkan antara produksi lokal dan kebutuhan impor.

Related Post
Terkait potensi dampak penutupan Selat Hormuz oleh Iran, Bahlil menjelaskan bahwa sekitar 20% impor minyak mentah Indonesia sebelumnya berasal dari wilayah strategis tersebut. Namun, langkah antisipatif telah diambil dengan mengalihkan sumber pasokan ke berbagai negara lain, termasuk Amerika Serikat (AS). "Kita juga tahu bahwa 20% dari crude kita itu kita ambil dari Selat Hormuz. Sekarang kita sudah switch ke tempat lain dan pasokannya sekarang Insyaallah sudah mulai membaik," terang Bahlil, menegaskan diversifikasi sumber energi untuk meminimalisir risiko dan memastikan keberlanjutan pasokan minyak mentah nasional.







Tinggalkan komentar