Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Kekhawatiran akan pelemahan nilai tukar rupiah kembali mencuat pasca-libur panjang Lebaran. Para analis memperkirakan mata uang Garuda akan menghadapi tekanan signifikan pada perdagangan pekan depan, terutama pada hari pertama pembukaan pasar. Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, bahkan memproyeksikan rupiah dapat menyentuh level Rp 17.050 terhadap dolar AS pada Rabu (25/3), hari pertama perdagangan setelah libur.
Menurut Ibrahim, pelemahan ini didorong oleh beberapa faktor fundamental, salah satunya adalah penguatan indeks dolar AS yang kian perkasa. Kebijakan bank sentral di berbagai negara yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi menjadi pemicu utama. Bahkan, beberapa negara seperti Australia justru menaikkan suku bunga di tengah bayang-bayang inflasi global yang belum mereda.
Selain itu, ketegangan geopolitik global turut memicu lonjakan harga minyak dunia. Minyak mentah jenis Brent, yang menjadi patokan global, diperkirakan akan bergerak di kisaran US$ 113 hingga US$ 116 per barel. Kombinasi kebijakan suku bunga tinggi dan harga energi yang melambung ini diperkirakan akan mendorong indeks dolar menuju level 101,10-an, yang pada akhirnya akan memberikan tekanan berat pada mata uang rupiah.

Related Post
Menyikapi potensi pelemahan ini, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sebenarnya telah melakukan berbagai upaya mitigasi. BI secara aktif melakukan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar internasional serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Di sisi pemerintah, efisiensi anggaran terus diupayakan guna menjaga defisit agar tidak melampaui batas 3% sesuai regulasi yang berlaku.
Namun, di balik semua langkah proaktif tersebut, dampak dari kondisi global masih menunjukkan pengaruh yang sangat dominan. Terutama lonjakan harga minyak dunia, yang menjadi beban besar bagi negara importir seperti Indonesia. Ibrahim menegaskan kepada redaksibengkulu.co.id bahwa "Secara domestik, pemerintah dan Bank Indonesia sudah benar-benar berhati-hati bagaimana caranya agar rupiah ini kembali menguat. Tetapi eksternal itu begitu kuat, apalagi tentang impor bahan bakar minyak." Kondisi ini menyoroti tantangan berat yang harus dihadapi Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar mata uangnya di tengah gejolak ekonomi global.









Tinggalkan komentar