B50 Segera Hadir! Devisa Rp 157 T & Jutaan Kerja Menanti!

Author Image

Hadi Wibawa

17 Juni 2026, 14:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Pemerintah Indonesia bersiap untuk menerapkan kebijakan ambisius terkait bahan bakar nabati (BBN) jenis Biodiesel 50 (B50). Campuran 50% minyak sawit dengan solar ini dijadwalkan resmi diberlakukan mulai 1 Juli 2026, dengan proyeksi mampu menghemat devisa negara secara signifikan, mencapai Rp 157,28 triliun pada tahun yang sama. Klaim optimis ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, dalam sebuah acara Badan Komunikasi Pemerintah di Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Anggia menjelaskan bahwa angka penghematan devisa ini menunjukkan peningkatan substansial dari program sebelumnya. "Jika pada tahun 2025, implementasi B40 telah berhasil menghemat devisa sebesar Rp 133 triliun, maka dengan B50 di tahun 2026, kita menargetkan penghematan yang lebih besar, yakni Rp 157,28 triliun," terang Anggia, menyoroti efektivitas kebijakan ini dalam menekan pengeluaran negara.

B50 Segera Hadir! Devisa Rp 157 T & Jutaan Kerja Menanti!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Lebih dari sekadar penghematan devisa, B50 juga diproyeksikan membawa dampak positif yang luas bagi perekonomian nasional, khususnya sektor pertanian. Program ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah bagi petani sawit domestik. Sebagai perbandingan, pada tahun 2025, program B40 telah menyumbang nilai tambah crude palm oil (CPO) sebesar Rp 20,9 triliun. Angka ini diperkirakan akan melonjak menjadi Rp 24,68 triliun dengan implementasi B50 di tahun 2026.

Selain itu, Anggia menambahkan, kebijakan B50 juga diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja baru dalam skala besar, dengan proyeksi penyerapan tenaga kerja mencapai 2,2 juta orang. Dari aspek lingkungan, implementasi B50 diharapkan dapat berkontribusi pada penurunan emisi karbon hingga 46,72 juta ton, sebuah langkah konkret Indonesia dalam menjaga keberlanjutan lingkungan global.

Anggia menegaskan bahwa pemberlakuan B50 merupakan strategi krusial untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar fosil. "Ketergantungan pada impor membuat kita rentan. Oleh karena itu, inilah yang diharapkan Presiden, agar kita bisa mandiri secara bertahap, baik dari bensin maupun solar. B50 adalah salah satu upaya utama kita untuk menghentikan impor solar," pungkasnya, menekankan visi kemandirian dan ketahanan energi nasional yang menjadi tujuan utama kebijakan ini.

Related Post