Peluang Emas! RI Genjot Ekspor Kakao & CPO ke Belarus!

Author Image

Hadi Wibawa

30 Juni 2026, 23:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id melaporkan, Pemerintah Indonesia secara agresif membuka keran ekspor komoditas pertanian unggulan, khususnya kakao dan minyak sawit mentah (CPO), menuju pasar Belarus. Langkah strategis ini terungkap dalam pertemuan bilateral antara Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, dan Menteri Pertanian dan Pangan Belarus, Yuri Gorglov, yang membahas penguatan kerja sama ekonomi dan teknologi pertanian.

Dalam pertemuan tersebut, terungkap potensi besar bagi kakao Indonesia. Belarus, dengan industri pengolahan cokelatnya yang kuat dan memasok kebutuhan domestik, Eropa Timur, hingga Rusia, membutuhkan pasokan kakao sekitar 120.000 ton per tahun. Kondisi ini menjadi angin segar bagi Indonesia untuk tidak hanya meningkatkan volume ekspor, tetapi juga memperluas jangkauan pasar bagi produk kakao nasional.

Peluang Emas! RI Genjot Ekspor Kakao & CPO ke Belarus!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Tak hanya kakao, Amran juga menekankan pentingnya peningkatan ekspor CPO ke Belarus. Negara di Eropa Timur ini diidentifikasi sebagai pintu gerbang strategis bagi produk pertanian Indonesia ke kawasan tersebut. Meskipun Belarus telah menyatakan kebutuhan akan minyak sawit sekitar 14.000 ton, komoditas ini belum sepenuhnya menembus pasar mereka. Ini adalah celah yang harus segera dimanfaatkan untuk mendongkrak volume perdagangan kedua negara.

Selain aspek perdagangan, kedua negara juga menyepakati penguatan kerja sama di sektor teknologi pertanian. Fokus utamanya mencakup pengembangan mekanisasi pertanian, modernisasi sistem irigasi, pengelolaan sumber daya air yang efisien, hingga pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) terkini. Amran menyoroti bahwa pengalaman dan teknologi Belarus dapat menjadi mitra strategis bagi Indonesia, yang memiliki potensi pertanian melimpah. Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat modernisasi pertanian dan memperkuat ketahanan pangan di kedua belah pihak.

Di sektor peternakan, peluang kerja sama perdagangan produk susu juga menjadi sorotan. Harapannya, kolaborasi ini dapat menghadirkan produk berkualitas dengan harga yang lebih kompetitif bagi konsumen Indonesia. Menutup pernyataannya, Amran menegaskan bahwa setiap bentuk kerja sama harus memberikan manfaat nyata, baik melalui peningkatan kualitas produk, harga yang kompetitif, maupun terbukanya peluang ekonomi baru. "Yang terpenting adalah implementasi. Semua hasil pertemuan ini harus segera ditindaklanjuti agar manfaatnya dapat dirasakan oleh kedua negara, khususnya para pelaku usaha dan petani," pungkas Amran, menekankan urgensi tindakan nyata.

Related Post