Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Konsumen dihadapkan pada ancaman kenaikan harga barang yang signifikan di pusat perbelanjaan atau mal. Prediksi ini datang dari Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, yang menyebut lonjakan harga akan terasa kuat menjelang akhir tahun 2026, khususnya pada kuartal IV. Berbagai faktor, mulai dari fluktuasi kurs rupiah, biaya logistik, hingga ongkos energi, disebut-sebut menjadi pemicu utama.
Alphonzus menjelaskan bahwa para peritel saat ini tengah sibuk menyiapkan pasokan barang baru untuk paruh kedua tahun 2026. Ia menggarisbawahi, produk-produk yang akan membanjiri rak-rak toko di penghujung tahun tersebut diproduksi dengan biaya yang jauh lebih tinggi. Hal ini tak lepas dari kenaikan harga bahan baku yang telah terjadi pada periode sebelumnya, sehingga memengaruhi ongkos produksi secara keseluruhan.

"Pada triwulan II dan III tahun ini, kenaikan harga memang sudah terjadi namun belum terlalu signifikan," ungkap Alphonzus saat ditemui di Trans Studio Mal Cibubur, Jawa Barat, Jumat (10/7/2026). "Ini karena barang yang dijual masih berasal dari stok lama. Namun, di triwulan IV, kenaikan harga hampir bisa dipastikan akan terjadi. Ini yang harus kita antisipasi bersama."
Also Read
Alphonzus tidak menampik bahwa situasi saat ini masih dibayangi berbagai tantangan. Selain periode "low season" yang berdampak pada sepinya pengunjung, ketidakpastian ekonomi global juga mulai memberikan efek domino. Ia merinci, potensi lonjakan harga ini dipicu oleh sederet faktor, termasuk peningkatan biaya logistik, melonjaknya biaya energi, serta gejolak nilai tukar rupiah.
"Situasi di dalam negeri pun saya kira penuh dengan tantangan," imbuh Alphonzus. Ia menambahkan, "Biaya logistik terus merangkak naik, demikian pula biaya energi. Nilai tukar rupiah yang bergejolak, ditambah kenaikan tingkat suku bunga pinjaman, semakin memperberat beban operasional."
Hampir seluruh kategori barang, menurut Alphonzus, dipastikan akan merasakan imbas kenaikan harga ini. Bahkan, ia menyoroti gangguan teknis seperti pemadaman listrik bergilir yang sempat terjadi, turut menambah daftar tantangan bagi dunia usaha.
Kenaikan harga ini, lanjut Alphonzus, diperkirakan akan menekan daya beli masyarakat, terutama dari kalangan menengah ke bawah. Ia mengingatkan bahwa daya beli konsumen saat ini belum sepenuhnya pulih ke tingkat normal pasca berbagai gejolak ekonomi.
"Jika harga naik, yang paling terdampak adalah kelas menengah bawah, mengingat daya beli mereka belum sepenuhnya pulih," tegas Alphonzus. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya dukungan pemerintah untuk menjaga kondisi dalam negeri tetap kondusif. Alphonzus berharap pemerintah dapat menghindari pembebanan tambahan bagi dunia usaha melalui gangguan teknis yang justru memperumit situasi, seperti ketidakpastian pasokan listrik.
"Pemerintah harus berupaya semaksimal mungkin menciptakan iklim yang lebih kondusif di dalam negeri," pungkas Alphonzus. Ia mencontohkan, kebijakan terkait tingkat suku bunga pinjaman dan stabilitas nilai tukar mata uang asing menjadi krusial. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa isu nilai tukar mungkin tidak secara langsung memengaruhi daya beli masyarakat kelas menengah bawah, namun dampaknya tetap terasa secara tidak langsung melalui harga barang.




