Redaksibengkulu.co.id – Jakarta bersiap menyambut era baru integrasi transportasi publik dengan pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas. Proyek ambisius senilai sekitar Rp 300 miliar ini dirancang untuk menyatukan simpul-simpul transportasi vital di kawasan Dukuh Atas, menjanjikan pengalaman perjalanan yang lebih mulus, aman, dan nyaman bagi jutaan komuter. Menariknya, pembiayaan proyek ini sepenuhnya mengandalkan skema creative financing tanpa sedikit pun sentuhan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Selama ini, perjalanan seorang komuter di Jakarta tak serta-merta berakhir saat kereta atau bus berhenti di peron. Justru, setelah pintu moda transportasi terbuka, perjalanan berikutnya baru dimulai: melangkah, berpindah moda, dan menyusuri simpul-simpul yang kerap terpisah menuju tujuan akhir. Perpindahan antarmoda ini, yang sering luput dari perhatian, sangat menentukan apakah perjalanan terasa mudah atau justru melelahkan.

Di kawasan Dukuh Atas, yang telah berkembang menjadi simpul transportasi terpadu dengan enam moda publik, seluruh simpul tersebut masih terpisah dan belum sepenuhnya terhubung oleh jaringan pejalan kaki yang mulus. Di celah inilah Pedestrian Deck Dukuh Atas hadir sebagai jawaban. Jembatan ini akan menjadi penyempurna integrasi kawasan transit, menyatukan empat area krusial ke dalam satu jaringan pejalan kaki yang lebih efisien.
Also Read
Keempat area yang akan dihubungkan mencakup kawasan Stasiun MRT Dukuh Atas BNI dan KRL BNI City di sisi utara, Stasiun Sudirman dan LRT Dukuh Atas di sisi timur, Kompleks Wisma 46 BNI, hingga kawasan Halte TransJakarta Galunggung dan Landmark. "Jadi yang kita bangun ini adalah menghubungkan kawasannya. Bagaimana koneksi ke transportasi-transportasi lain di sekitarnya. Untuk yang kita siapkan adalah deck yang kita buat ini, dia ready untuk dikoneksikan ke masing-masing transportasi," ujar Agus Trihan, Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta, di Kantor MRT Jakarta.
Proyek ini dirancang berbentuk cincin dengan diameter sekitar 100 meter. Struktur baja modern ini akan berdiri setinggi 8 meter dari permukaan Jalan Sudirman dan memiliki bentang kolom hingga 66 meter. Untuk memastikan mobilitas yang nyaman bagi semua pengguna, jembatan ini juga akan dilengkapi tiga unit eskalator dan tiga unit elevator.
Kehadiran jembatan ini diproyeksikan akan menghadirkan rute yang lebih efisien bagi pejalan kaki. Sebagai contoh, akses dari kawasan Landmark Tower menuju Hotel Shangri-La, yang selama ini mengharuskan pengguna berjalan memutar, nantinya dapat ditempuh melalui lintasan yang lebih langsung. Dengan begitu, waktu tempuh perjalanan diperkirakan dapat dipangkas hingga lima menit.
Sagita Devi, Head of TOD Planning Department MRT Jakarta, menjelaskan bahwa pembangunan pedestrian deck ini merupakan bagian dari pengembangan kawasan TOD yang tidak hanya menghubungkan stasiun MRT, tetapi juga berbagai moda transportasi lain melalui jalur pejalan kaki yang nyaman. "Berkolaborasi dengan KAI dan anak usaha kami MBTJ waktu itu sebagai perusahaan patungan MRT dan KAI, dengan menggunakan creative financing tanpa anggaran APBD pemerintah, membangun pedestrian bridge ini," jelasnya, menegaskan komitmen kuat dari berbagai pihak.
Rencana pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas kini mulai memasuki tahap realisasi. Kajian pra-uji kelayakan (feasibility study/FS) telah rampung, dan perencanaan proyek telah diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Saat ini, MRT Jakarta tengah memasuki tahap pelelangan, dengan target pekerjaan konstruksi dimulai pada November 2026 dan rampung sepenuhnya pada tahun 2028.
Tantangan di Antara Terowongan dan Sungai
Mewujudkan visi besar untuk membangun jembatan pejalan kaki ini ternyata tidaklah sederhana. Agus Trihan mengungkapkan bahwa pihaknya harus berhadapan dengan kondisi lapangan yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan yang terlihat, yakni kawasan yang dipenuhi permukiman padat.
"PR bikin proyek ini ada dua, teknis sama administratif. Teknis, kita membangun kolom-kolom ini di area yang sudah padat, Kendal areanya sempit secara teknis, terus ada pondasi yang harus berada di antara terowongan MRT," terang Agus. Tantangan teknis lainnya, pembangunan juga harus melewati sungai, jalan layang, hingga menembus terowongan MRT yang masih beroperasi. "Challenge-nya itu, di sisi selatan sini ada rumah pompa, ini sebenarnya rumah pompa untuk jalan ya, tapi itu ketika pembangunan kita harus maintain biar tetap beroperasi. Karena kita nggak bisa kalau dia mati, itu cepat naik air di underpass, dan cepat banjir," sambungnya.
Dari sisi administrasi, Agus mengatakan proyek ini menuntut koordinasi lintas instansi yang intensif. Jalur pedestrian deck akan melintasi aset berbagai pihak, mulai dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub), KAI, Railink, hingga pemerintah daerah (Pemda), memerlukan sinergi yang kuat untuk mencapai kesepakatan.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah sistem transportasi modern tidak hanya diukur dari seberapa cepat kereta melaju atau berapa banyak moda yang terhubung. Integrasi juga ditentukan oleh seberapa mudah, aman, dan nyaman seseorang melangkah dari satu titik ke titik lainnya. Di Dukuh Atas, bukan hanya sebuah jembatan yang sedang dibangun, melainkan pengalaman perjalanan yang lebih utuh dan manusiawi bagi para komuter Jakarta.




