Bolivia Krisis! Utang Rp 33 T & Subsidi BBM Dicabut

Author Image

Hadi Wibawa

4 Oktober 2026, 11:46 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Kondisi ekonomi Bolivia tengah berada di titik kritis. Guna mengatasi guncangan fiskal yang melanda, Dewan Eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF) resmi menyetujui program pinjaman jangka panjang melalui Extended Fund Facility (EFF). Melalui kesepakatan ini, Bolivia akan menerima suntikan dana hingga mencapai angka fantastis, yakni sekitar US$ 1,9 miliar atau setara dengan Rp 33,98 triliun.

Langkah drastis ini diambil sebagai upaya penyelamatan untuk memulihkan stabilitas ekonomi nasional, memperkuat cadangan devisa, serta memberikan perlindungan sosial bagi warga. Sebagai tahap awal, pemerintah Bolivia telah diberikan akses untuk mencairkan dana sebesar US$ 214 juta atau kurang lebih Rp 3,82 triliun. Pencairan sisa dana lainnya akan dilakukan secara bertahap, bergantung pada hasil evaluasi kinerja ekonomi negara tersebut.

Bolivia Krisis! Utang Rp 33 T & Subsidi BBM Dicabut
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Nigel Clarke, Anggota Dewan Eksekutif sekaligus Wakil Direktur Pelaksana IMF, menyatakan bahwa Bolivia telah melakukan langkah-langkah signifikan untuk memperbaiki ketidakseimbangan makroekonomi yang selama ini menghambat pertumbuhan. Namun, ia menekankan bahwa keberlanjutan fiskal menjadi kunci utama dalam program ini.

Salah satu kebijakan paling berdampak yang akan segera diterapkan adalah penghapusan subsidi bahan bakar minyak (BBM) secara bertahap. "Upaya fiskal di tahap awal mencakup penghapusan subsidi BBM yang tersisa melalui mekanisme penetapan harga otomatis, yang dibarengi dengan penguatan perlindungan sosial agar lebih tepat sasaran bagi masyarakat rentan," ujar Clarke sebagaimana dikutip dari laman resmi IMF.

Selain pemangkasan subsidi, Bolivia juga didorong untuk melakukan reformasi besar-besaran pada perusahaan publik dan manajemen utang. Pemerintah ditargetkan mampu menciptakan iklim investasi yang lebih sehat guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan membuka lapangan kerja baru melalui sektor swasta.

Di sisi lain, otoritas moneter Bolivia juga diminta untuk lebih fleksibel dalam mengelola nilai tukar dan memperkuat pengawasan sektor keuangan. Langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga serta meningkatkan kredibilitas bank sentral melalui manajemen likuiditas yang lebih bijaksana. Dengan dukungan dari IMF ini, diharapkan Bolivia mampu menarik kepercayaan dari lembaga keuangan internasional lainnya untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

Related Post