Revolusi BI: Limbah Uang Kertas Jadi Cenderamata & Energi!

Author Image

Hadi Wibawa

17 Agustus 2026, 23:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Bank Indonesia (BI) kembali menunjukkan komitmennya terhadap ekonomi sirkular dan keberlanjutan lingkungan dengan menyulap limbah uang kertas yang tidak layak edar menjadi produk bernilai tambah. Sebuah inovasi menarik, 72% dari total limbah uang kertas kini berhasil diolah kembali, tidak lagi sekadar dimusnahkan, melainkan diubah menjadi cenderamata unik dan bahkan sumber energi.

Langkah transformatif ini diwujudkan melalui kolaborasi strategis. BI menggandeng Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mengolah serpihan uang kertas menjadi berbagai suvenir menarik yang memiliki nilai jual. Selain itu, bank sentral juga bermitra dengan perusahaan pengolahan energi, memungkinkan limbah racik uang dimanfaatkan sebagai bahan bakar tambahan untuk pembangkit listrik atau kebutuhan industri. Target ambisius pun dicanangkan: pada tahun 2027, seluruh limbah racik uang ditargetkan akan diolah secara sirkuler, menegaskan komitmen BI terhadap manfaat lingkungan dan ekonomi.

Revolusi BI: Limbah Uang Kertas Jadi Cenderamata & Energi!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, dalam keterangan persnya yang diakses redaksibengkulu.co.id pada Senin (17/8/2026), menekankan pentingnya pengelolaan uang yang adaptif terhadap tuntutan keberlanjutan lingkungan. "Pengelolaan Rupiah tidak berhenti ketika uang tidak lagi layak edar. Pertanyaannya bukan lagi sekadar bagaimana memusnahkannya, tetapi bagaimana memberikan nilai baru melalui pemanfaatan yang produktif," ujar Ricky. Visi ini mendorong BI melakukan transformasi menyeluruh, mulai dari proses pencetakan, pengedaran, hingga pemusnahan uang Rupiah yang lebih ramah lingkungan. Inovasi ini bahkan telah diganjar penghargaan bergengsi International Association of Currency Affairs (IACA) Award 2026.

Tren pengelolaan uang yang berkelanjutan ini bukan hanya fenomena lokal. Bank sentral di berbagai negara juga aktif berinovasi. Bank Negara Malaysia (BNM), misalnya, mengolah limbah racik uang menjadi beragam produk. Sementara itu, Bank of Thailand memilih untuk menggunakan bahan kertas yang lebih tahan lama, dengan tujuan memperpanjang masa edar uang, mengurangi frekuensi pencetakan ulang, sekaligus meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan. Berbagai pengalaman ini menggarisbawahi bahwa aspek keberlanjutan telah menjadi bagian integral dari strategi pengelolaan uang di tingkat global.

Diskusi mendalam mengenai praktik-praktik terbaik dan inovasi dalam pengelolaan uang ini menjadi agenda utama dalam BRIDGE 2026, sebuah forum dialog internasional yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia di Istora Senayan, Jakarta, pada 13 Agustus. Acara yang merupakan bagian dari FERBI 2026 ini turut menghadirkan perwakilan bank sentral dan otoritas moneter dari India, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Papua Nugini, serta para pelaku industri uang tunai internasional. Melalui langkah-langkah inovatif ini, pengelolaan uang Rupiah tidak hanya memenuhi fungsinya sebagai alat tukar, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi nasional.

Related Post