Redaksibengkulu.co.id melaporkan – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru-baru ini menggemparkan Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebuah kabupaten yang dikenal sebagai titik paling selatan Indonesia. Dalam sebuah inisiatif ambisius, OJK tidak hanya memperluas jangkauan literasi keuangan hingga ke pelosok negeri, tetapi juga berhasil mencetak Rekor MURI. Sebanyak 220.194 rekening Simpanan Pelajar (SimPel) dibuka serentak di 22 kabupaten/kota se-NTT, menandai puncak Hari Indonesia Menabung (HIM) Provinsi NTT 2026 yang digelar pada Rabu, 19 Agustus 2026, di SMAN 1 Rote Selatan.
Kabupaten Rote Ndao, dengan lanskap kepulauan yang indah namun menantang, seringkali dihadapkan pada kondisi geografis ekstrem. Angin kencang dan suhu sekitar 28 derajat Celsius menjadi bagian dari keseharian masyarakatnya. Kondisi ini, ditambah dengan keterbatasan transportasi, menjadi hambatan utama dalam menyalurkan informasi dan layanan, termasuk edukasi finansial. Plt. Kepala OJK NTT, Yan Jimmy Hendrik Simarmata, menyoroti kompleksitas menjangkau daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) seperti Rote Ndao. "Tantangan sosialisasi, literasi, dan edukasi sampai ke daerah pelosok ini pastinya ada. Terutama kita tidak bisa setiap saat mengunjungi daerah 3T mengingat adanya keterbatasan transportasi," ungkap Yan Jimmy, seraya menambahkan bahwa perubahan iklim seringkali membatalkan jadwal penerbangan atau penyeberangan laut.

Melihat urgensi tersebut, OJK menghadirkan edukasi langsung yang dikemas secara menarik. Romualdus San Udika Jurnalos, atau akrab disapa Sandi, Duta Literasi Keuangan OJK, membawa materi pengelolaan uang dengan pendekatan yang sangat relevan bagi pelajar Rote Ndao. Ia mengibaratkan pengelolaan uang jajan seperti sampan bocor yang digunakan melaut. "Kalau kita paksa jalan, kita akan karam di lautan. Itu sama dengan kita punya uang jajan. Kalau kita tidak rencanakan dengan baik, maka dia akan bocor halus," jelas Sandi. Ia mendorong kebiasaan menyisihkan uang sejak dini, bahkan dengan nominal kecil, sebagai langkah awal membangun disiplin finansial.
Also Read
Lebih dari sekadar menabung, edukasi ini juga membekali pelajar dengan pemahaman risiko dalam dunia keuangan. Sandi secara tegas mengingatkan bahaya judi online, pinjaman online ilegal, serta investasi bodong yang dapat merugikan. Ia juga menjelaskan peran vital OJK yang memiliki fungsi mengatur, mengawasi, dan melindungi masyarakat sebagai konsumen sektor jasa keuangan. "Otoritas Jasa Keuangan berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 itu dibentuk fungsinya ada tiga: mengatur, mengawasi, dan melindungi. Melindungi itu yang penting juga," tegas Sandi, menekankan pentingnya bekal ini sebelum pelajar memasuki dunia perkuliahan atau kerja.
Gerakan pembukaan rekening SimPel ini merupakan bagian integral dari Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) yang digaungkan dalam momentum Hari Indonesia Menabung 2026. Program ini merupakan hasil kolaborasi masif antara OJK, Pemerintah Provinsi NTT, pemerintah kabupaten/kota, Bank NTT, satuan pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa pencapaian rekor MURI ini bukanlah tujuan akhir. "Rekor ini adalah penanda bahwa kita mampu bergerak bersama dalam skala besar. Rekor selesai, tapi yang jauh lebih penting adalah membuat rekening yang telah dibuka tetap aktif, anak-anak kita terus menabung, dan program ini kita bangun melalui pendampingan yang berkelanjutan," pesannya. Senada, Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, turut mengajak pelajar untuk membiasakan diri menyisihkan uang jajan sebagai latihan tanggung jawab finansial.
Capaian fantastis 220.194 rekening SimPel yang dibuka serentak di 22 kabupaten/kota se-NTT ini memang tercatat sebagai Rekor MURI. Namun, bagi OJK dan pemerintah daerah, tantangan sesungguhnya adalah memastikan rekening-rekening tersebut tetap aktif dan digunakan secara rutin oleh pelajar. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melalui Sub Manager Kantor Perwakilan LPS II Surabaya, Shabrina Kirgizia Hanum, turut memberikan edukasi mengenai keamanan simpanan. Shabrina menekankan pentingnya keseimbangan antara literasi dan inklusi keuangan. "Ada gap ya teman-teman antara literasi dan juga inklusi. Dan ini sebenarnya tidak boleh karena inklusi dan literasi ini harus berjalan beriringan," ujarnya, memastikan pelajar tidak hanya mengenal, tetapi juga memahami cara menggunakan layanan keuangan dengan aman.
Dengan demikian, rangkaian Hari Indonesia Menabung di Rote Ndao ini menjadi lebih dari sekadar seremoni. OJK berharap pengenalan SimPel menjadi pintu gerbang bagi pelajar untuk membangun kebiasaan finansial sejak dini, mulai dari menyisihkan uang jajan, menentukan prioritas, hingga memahami risiko. Dari kebiasaan sederhana ini, pelajar diharapkan memiliki bekal kuat untuk mengelola keuangan secara mandiri, mempersiapkan mereka menghadapi tantangan finansial di masa depan, baik saat melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.




