Cabai Rp 100 Ribu! Ini Penyebabnya

Author Image

Hadi Wibawa

25 Oktober 2026, 20:46 WIB

Redaksibengkulu.co.id, Jakarta — Harga komoditas cabai di pasar masih mencekik kantong konsumen. Bahkan, harga cabai rawit merah dilaporkan telah menyentuh angka fantastis, yakni Rp 100.000 per kilogram. Fenomena ini memicu pertanyaan di tengah masyarakat mengenai penyebab utama mahalnya bumbu dapur tersebut.

Dewan Pertimbangan Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI), Tunov Mondro Atmodjo, mengungkapkan bahwa meski harga di tingkat petani sudah mulai melandai dari Rp 60.000 menjadi kisaran Rp 42.000 hingga Rp 50.000 per kilogram dalam dua pekan terakhir, harga di pasar tetap tinggi. Menurutnya, faktor cuaca ekstrem menjadi biang kerok utama fluktuasi harga saat ini.

Cabai Rp 100 Ribu! Ini Penyebabnya
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Kondisi cuaca ekstrem sangat memengaruhi produksi. Kekeringan yang melanda membuat tanaman cabai berhenti berproduksi," ujar Tunov kepada redaksibengkulu.co.id, Minggu (25/10/2026).

Tunov menjelaskan bahwa akibat kekeringan, hasil panen petani saat ini hanya mampu mencapai 50 persen dari kapasitas normal. Kondisi ini dianggap sudah cukup baik mengingat cuaca yang tidak menentu. Ia memprediksi harga cabai tidak akan turun secara drastis karena keterbatasan produksi tersebut, meski stok di lapangan dipastikan tetap aman.

Selain faktor cuaca, Tunov menyoroti panjangnya rantai distribusi sebagai faktor penyumbang mahalnya harga. Pola distribusi lama yang melibatkan banyak perantara sebelum sampai ke tangan konsumen akhir masih menjadi kendala, meskipun saat ini mulai muncul upaya pemendekan rantai pasok melalui kerja sama antar daerah dan kelompok tani langsung ke pasar.

Menjelang momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027, Tunov memproyeksikan harga cabai akan cenderung stabil jika cuaca mendukung. "Jika cuaca membaik, harga akan berada di level aman, tidak melonjak terlalu tinggi namun juga tidak jatuh drastis," tambahnya.

Di sisi lain, Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Ito Hediarto, menjamin bahwa pasokan cabai secara nasional masih mencukupi untuk kebutuhan Nataru. Namun, ia menekankan pentingnya menjaga kelancaran distribusi, terutama pengiriman melalui jalur laut yang sering terkendala di perjalanan.

"Untuk cabai sendiri cukup, tinggal kita kawal sisi distribusinya agar tidak tersendat di jalan yang bisa memicu kenaikan harga di daerah tujuan," kata Ito.

Guna mengantisipasi lonjakan harga, Bapanas telah menyiapkan fasilitas distribusi pangan (FDP) untuk membantu mobilisasi pasokan dari daerah surplus ke daerah yang membutuhkan. Saat ini, realisasi anggaran FDP telah mencapai 69,5 persen, sehingga masih tersedia cadangan anggaran untuk menangani daerah dengan kenaikan harga ekstrem.

Selain cabai, Bapanas juga memastikan ketersediaan beras tetap terjaga melalui koordinasi dengan Perum Bulog melalui program SPHP dan bantuan pangan bulanan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir menghadapi periode Nataru.

Berdasarkan data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHSI) Nasional, meski terjadi sedikit penurunan harga, cabai rawit merah masih bertahan di level Rp 102.950/kg. Sementara itu, cabai merah keriting berada di angka Rp 86.100/kg, dan cabai rawit hijau di angka Rp 79.400/kg.

Related Post