JAKARTA – Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tengah mengambil langkah antisipasi strategis guna mengamankan rantai pasok bahan baku perusahaan. Langkah ini diambil menyusul meningkatnya risiko gangguan distribusi akibat ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group, Suryandi, mengungkapkan bahwa saat ini sekitar 80 persen kebutuhan nafta perusahaan masih bergantung pada pasokan dari kawasan Timur Tengah. Jalur utama pengiriman tersebut melewati Selat Hormuz, yang kini berada dalam kondisi rawan akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

"Adanya disrupsi pada pasokan dari Selat Hormuz mendorong kami untuk bergerak lebih cepat dalam mencari sumber alternatif nafta. Kami tidak ingin hanya bergantung sepenuhnya pada wilayah Timur Tengah," ujar Suryandi dalam sesi diskusi bersama media di Jakarta Selatan, Senin (2/11/2026).
Also Read
Menghadapi ketidakpastian pasar, perseroan kini memprioritaskan keunggulan operasional (operational excellence) serta diversifikasi sumber bahan baku. Salah satu strategi jangka panjang yang tengah digarap adalah pembangunan fasilitas Condensate Splitter Unit (CSU) yang berlokasi di Cilegon, Banten.
Fasilitas canggih ini diproyeksikan memiliki kapasitas pengolahan minyak mentah mencapai 300.000 barel per hari. Jika target penyelesaian pada tahun 2027 tercapai, unit CSU ini diharapkan mampu memproduksi sekitar 2,5 juta ton nafta per tahun untuk menyokong kebutuhan industri.
"Pembangunan condensate splitter ini akan menjadi opsi positif yang memberikan fleksibilitas bagi Chandra Asri. Fasilitas ini akan menghasilkan bahan baku alternatif nafta dalam jumlah besar," tambah Suryandi.
Meski demikian, Suryandi menegaskan bahwa perusahaan tidak akan menghentikan aktivitas impor nafta secara total. Kehadiran fasilitas pengolahan dalam negeri tersebut diposisikan sebagai "bantalan pengaman" (buffer) untuk memitigasi risiko jika terjadi gangguan serupa di masa mendatang.
"Kami tetap akan melakukan impor, namun fasilitas ini menjadi alternatif krusial. Jika terjadi gangguan produksi di Timur Tengah atau hambatan di jalur distribusi lainnya, kami sudah memiliki cadangan dan pilihan sumber lain," pungkasnya.




