Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa Indonesia kini mengukuhkan posisinya sebagai pemain kunci dalam pasar energi global. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa Indonesia memegang peranan krusial dengan menyumbang sekitar 540 juta ton batu bara pada tahun 2025. Angka fantastis tersebut setara dengan 43 persen dari total volume perdagangan batu bara dunia yang mencapai 1,3 miliar ton.
Dalam keterangannya pada forum Minerba Convex 2026, Bahlil menjelaskan bahwa besarnya kontribusi Indonesia terhadap peredaran komoditas hitam ini sempat menjadi tantangan tersendiri bagi stabilitas ekonomi nasional. Ia menyoroti fenomena di mana melimpahnya pasokan justru sempat menekan harga pasar hingga ke titik terendah pada tahun 2025.

"Kondisi ini menyebabkan harga batu bara di tahun 2025 berada pada level terendah. Dampaknya, profit perusahaan tidak maksimal dan pendapatan negara pun tidak optimal, padahal kita sudah melakukan pembukaan lahan dalam skala besar," ujar Bahlil yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Also Read
Menyikapi situasi tersebut, pemerintah mengambil langkah strategis untuk menyeimbangkan antara ketersediaan barang dan permintaan pasar (supply and demand). Melalui kebijakan pengendalian produksi dengan cara memangkas Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), pemerintah berupaya menjaga agar harga tetap kompetitif di pasar internasional.
Strategi intervensi ini terbukti efektif meningkatkan nilai ekonomi komoditas tersebut. Bahlil menyebutkan bahwa dengan mengontrol volume produksi, harga batu bara mampu melonjak signifikan.
"Strategi ini berhasil. Dengan menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan melalui pemangkatan RKAB, harga batu bara bisa menyentuh angka US$ 154 untuk kalori 633. Hasilnya, meskipun produksi terkoreksi menurun, pendapatan negara justru melonjak tajam. Ini adalah langkah tepat agar barang kita tidak dijual dengan harga murah," pungkasnya.




