Redaksibengkulu.co.id – Sistem imigrasi nasional Malaysia mengalami kelumpuhan total pada Sabtu (30/5/2026), memicu kekacauan dan antrean mengular hingga berjam-jam di seluruh pos pemeriksaan imigrasi Negeri Jiran. Insiden ini secara khusus berdampak parah pada ribuan pekerja yang hendak menyeberang ke Singapura, membuat mereka terlantar dan frustrasi.
Menurut laporan dari Channel News Asia (CNA), titik perbatasan darat Johor-Singapura, yang dikenal sebagai salah satu jalur tersibuk dan paling vital, menjadi saksi bisu kekacauan terbesar. Petugas imigrasi terpaksa beralih ke proses administrasi manual setelah seluruh sistem berbasis komputer lumpuh total antara pukul 04.30 pagi hingga 09.30 pagi waktu setempat. Media lokal The Star, yang dikutip oleh CNA, menggambarkan situasi ini sebagai "gangguan besar".

Seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Malaysia mengungkapkan bahwa kelumpuhan sistem terjadi pada "waktu puncak" ketika ribuan warga Malaysia bergegas menuju Singapura untuk bekerja. "Kami terpaksa mengerahkan seluruh personel yang ada untuk mengoperasikan loket manual di aula bus, jalur sepeda motor, dan jalur kendaraan," jelas pejabat tersebut. Ia menambahkan, "Tidak hanya gerbang otomatis kami yang rusak, bahkan sistem pengenalan wajah kami pun juga tidak berfungsi."
Also Read
Gelombang frustrasi melanda para pekerja Malaysia. Banyak di antara mereka yang mengeluhkan keterlambatan masuk kerja di negara tetangga. Tak pelak, foto dan video yang memperlihatkan kemacetan parah, kerumunan besar di pos pemeriksaan imigrasi, serta lalu lintas padat di perbatasan, membanjiri media sosial dan laporan berita lokal.
Salah satu saksi mata, M. Satish, seorang pekerja kesehatan, keselamatan, dan lingkungan, menceritakan pengalamannya. Tiba di pos pemeriksaan KSAB sekitar pukul 07.30 pagi, ia langsung dihadapkan pada pemandangan kacau. Proses imigrasi yang biasanya hanya memakan waktu kurang dari 10 menit, kala itu molor hingga hampir 40 menit. "Seandainya saya tidak berangkat dari rumah lebih awal pagi ini, saya pasti akan terlambat kerja. Pemadaman listrik juga memperparah kemacetan lalu lintas," kata Satish seperti dikutip The Star. Ia berharap instansi terkait dapat mencegah masalah serupa terulang.
Sistem Imigrasi Malaysia ‘Sudah Uzur’
Insiden ini bukan yang pertama. Dalam kurun waktu kurang dari sebulan, ini adalah gangguan besar kedua yang melanda sistem imigrasi Malaysia. Sebelumnya, pada tanggal 23 April, ribuan pelancong juga sempat terlantar selama sekitar dua jam akibat masalah serupa. Gangguan pada Kamis (28/5) pagi itu memengaruhi sebagian besar dari 114 pos pemeriksaan imigrasi Malaysia di seluruh negeri, mendorong pengerahan personel keamanan tambahan untuk menjaga ketertiban.
Meskipun beberapa pelancong melaporkan gangguan dimulai sejak pukul 04.30 pagi, Direktur Jenderal Departemen Imigrasi, Zakaria Shaaban, mengklarifikasi bahwa insiden teknis tersebut terjadi sekitar pukul 05.00 pagi dan baru pulih sepenuhnya pada pukul 08.45 pagi. Masalah ini bersumber dari pusat data Sistem Imigrasi Malaysia (MyIMMs).
Zakaria menegaskan bahwa sistem tidak diretas, melainkan mengalami masalah teknis akibat usianya yang sudah mencapai 30 tahun. "Sistem MyIMMs sudah berusia 30 tahun. Masalah pasti akan terjadi," ujarnya.
Sistem MyIMMs memang rencananya akan digantikan oleh Sistem Imigrasi Terpadu Nasional (NIISe) yang dijadwalkan beroperasi penuh pada tahun 2028. Platform imigrasi digital baru ini dirancang untuk memodernisasi pengendalian perbatasan, mengintegrasikan verifikasi paspor, pemeriksaan visa, dan data pelancong ke dalam satu platform. Namun, gangguan seperti insiden kemarin mungkin akan terus terulang hingga sistem NIISe beroperasi sepenuhnya. Saat ini, vendor NIISe telah diinstruksikan untuk menyiapkan rencana mitigasi, terutama menjelang dimulainya pengoperasian Sistem Transit Cepat (RTS) Johor Bahru-Singapura tahun depan. "Kami akan bertahan sampai sistem NIISe siap," pungkas Zakaria.




