Terungkap! 3 Jurus Sakti Jaga Ekonomi RI Tetap Perkasa

Author Image

Hadi Wibawa

30 Mei 2026, 20:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Di tengah gejolak ekonomi global yang dipicu oleh perang dagang dan ketidakpastian geopolitik, perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan bahwa fondasi ekonomi nasional cukup kokoh untuk meredam berbagai risiko tersebut. Pernyataan ini disampaikan dalam Kuliah Umum di Institut Pertanian Bogor pada akhir Mei lalu.

Menurut Juda Agung, kekuatan ekonomi Indonesia bersumber dari bauran energi nasional yang efektif serta implementasi strategi fiskal yang pruden. "Kita memiliki produksi minyak, gas, biodiesel, bioenergi, dan batu bara. Kombinasi energi kita lebih baik, sehingga kita memiliki daya tahan yang kuat terhadap lonjakan harga minyak global," jelas Juda, mengutip keterangan Kementerian Keuangan.

Terungkap! 3 Jurus Sakti Jaga Ekonomi RI Tetap Perkasa
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan disiplin fiskal dan stabilitas makroekonomi, Juda Agung memaparkan tiga strategi utama yang telah dan akan terus dijalankan pemerintah.

Pertama, pengendalian belanja negara. Pemerintah berkomitmen penuh untuk menjaga daya beli masyarakat dan menekan laju inflasi. Hal ini diwujudkan melalui alokasi subsidi BBM yang signifikan. Selain itu, program-program strategis seperti Makan Bergizi Gratis juga diefisiensikan dengan penyesuaian jadwal. Belanja negara secara keseluruhan difokuskan pada sektor-sektor produktif yang mampu mendorong pertumbuhan, meningkatkan produksi, dan menciptakan lapangan kerja baru. "Ini adalah sisi pengeluaran yang kita kendalikan melalui refocusing. Kita akan fokus pada pengeluaran yang memacu permintaan, mendorong pasokan, meningkatkan produksi, dan menciptakan lapangan kerja," urai Wamenkeu.

Kedua, optimalisasi penerimaan negara. Pemerintah memanfaatkan secara maksimal momentum kenaikan harga komoditas global. Di samping itu, upaya penguatan penerimaan pajak terus digalakkan melalui implementasi sistem Coretax yang diharapkan mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengumpulan pajak.

Ketiga, strategi pembiayaan. Guna mengurangi ketergantungan terhadap mata uang Dolar AS, pemerintah mengarahkan pembiayaan melalui penerbitan surat utang berdenominasi mata uang non-US$. Instrumen seperti Samurai bonds (Yen), Dim Sum bonds (Renminbi), dan Kangoroo bonds (Dolar Australia) menjadi pilihan strategis dengan tingkat bunga yang kompetitif.

Juda Agung menambahkan, efektivitas penerapan strategi fiskal ini telah terbukti dari performa ekonomi kuartal pertama tahun ini. Perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan kuat sebesar 5,61%. Angka ini diiringi dengan laju inflasi yang tetap terjaga di level 2,42%, defisit fiskal yang terkendali pada 0,64% per April tahun ini, serta yield Surat Berharga Negara (SBN) dan spread yang stabil.

"Empat indikator ini – pertumbuhan, inflasi, defisit fiskal, dan yield SBN – menjadi penentu kekuatan fiskal kita. Strategi yang kita terapkan terbukti bekerja dengan sangat baik," pungkas Wamenkeu Juda Agung.

Related Post