Terkuak! RI Impor Beras & Ratusan Ribu Ayam dari AS, Ini Alasannya!

Redaksibengkulu.co.id – Kabar mengejutkan datang dari sektor perdagangan Indonesia. Sebagai bagian dari kesepakatan dagang resiprokal, Indonesia siap mendatangkan 1.000 ton beras jenis khusus dan 580.000 ekor ayam hidup dari Amerika Serikat (AS). Kebijakan ini menuai perhatian publik, mengingat sensitivitas isu impor pangan di tengah upaya penguatan kedaulatan pangan nasional.

Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Haryo Limanseto, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, menjelaskan bahwa beras yang akan diimpor adalah beras dengan klasifikasi khusus. Ia menegaskan bahwa realisasi pengadaan beras ini akan sangat bergantung pada kebutuhan dan permintaan domestik. "Pemerintah telah menyetujui alokasi impor untuk beras klasifikasi khusus asal AS, namun implementasinya tetap disesuaikan dengan permintaan dalam negeri," ujar Haryo, dikutip Senin (23/2/2026).

Haryo juga menambahkan bahwa impor beras dari AS merupakan hal yang tidak lazim dalam lima tahun terakhir. Volume 1.000 ton beras yang disepakati ini, menurutnya, sangatlah minim jika dibandingkan dengan total produksi beras nasional yang mencapai 34,69 juta ton pada tahun 2025. "Angka 1.000 ton itu hanya sekitar 0,00003% dari total produksi nasional. Jadi, tidak akan berdampak signifikan," tegasnya kepada Redaksibengkulu.co.id.

COLLABMEDIANET

Selain beras, Indonesia juga akan mendatangkan 580.000 ekor ayam hidup jenis Grand Parent Stock (GPS) dengan estimasi nilai mencapai US$ 17-20 juta. Impor GPS ini krusial karena merupakan sumber genetik utama bagi industri peternakan ayam di Tanah Air, mengingat fasilitas pembibitan GPS di Indonesia masih belum tersedia secara memadai.

Haryo juga mengklarifikasi bahwa impor bagian-bagian ayam seperti paha, dada, atau kaki, tidak pernah dilarang asalkan memenuhi standar kesehatan hewan, keamanan pangan, dan ketentuan teknis yang berlaku. Lebih lanjut, untuk menopang industri makanan olahan, Indonesia juga rutin mengimpor Mechanically Deboned Meat (MDM) sebagai bahan baku sosis, nugget, bakso, dan produk sejenis, dengan volume diperkirakan antara 120.000 hingga 150.000 ton per tahun.

Pemerintah melalui Haryo Limanseto secara tegas menjamin bahwa kebijakan impor ini tidak akan mengorbankan industri domestik. Perlindungan terhadap peternak lokal tetap menjadi prioritas utama, seiring dengan upaya menjaga stabilitas pasokan dan harga ayam di pasar nasional. "Tidak ada kebijakan yang mengorbankan industri domestik. Kami tetap memprioritaskan perlindungan peternak dalam negeri serta menjaga keseimbangan pasokan dan harga ayam nasional," pungkasnya.


Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar