Redaksibengkulu.co.id – Aksi massa yang terjadi beberapa hari lalu berdampak signifikan terhadap sektor ritel. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, mengungkapkan transaksi di pusat perbelanjaan di Jakarta anjlok hingga 50% sejak Jumat lalu. Biasanya, transaksi di 100 mal di Jakarta mencapai Rp 500 miliar per hari. Kini, angka tersebut terpangkas drastis.
"Penurunannya sekitar 50% per hari. Sejak Jumat lalu, pengunjung sepi," ujar Alphonzus. Hampir semua jenis gerai terdampak, kecuali yang menjual kebutuhan pokok sehari-hari. Meskipun operasional mal tetap berjalan normal, keamanan dan kenyamanan pelanggan tetap menjadi prioritas utama.
Hal senada disampaikan Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah. Meskipun belum menghitung kerugian secara pasti, ia mengakui adanya penurunan omzet yang signifikan. "Kalau kerugian belum dapat dihitung, tapi di Jakarta saja dalam sehari sudah beberapa ratus miliar rupiah omzetnya," katanya.

Related Post
Ia menjelaskan, mal-mal di pusat kota, terutama yang berdekatan dengan lokasi demonstrasi, mengalami penurunan pengunjung yang cukup drastis. Sektor fesyen dan bioskop menjadi yang paling terdampak. Sebaliknya, supermarket dan restoran di daerah pinggiran justru mengalami peningkatan, diduga karena adanya aksi panic buying.
Dampak aksi massa ini menunjukkan betapa rentannya sektor ritel terhadap situasi keamanan dan politik. Para pelaku usaha berharap situasi segera pulih agar aktivitas ekonomi kembali normal.









Tinggalkan komentar