JAKARTA – Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa pemerintah tengah melakukan manuver besar dalam pengelolaan keuangan negara. Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, secara terbuka mengungkapkan adanya kebijakan pergeseran anggaran yang mencapai angka fantastis, yakni hampir Rp 200 triliun, demi menjaga keseimbangan antara belanja negara dan pendapatan.
Dalam keterangannya pada Rapimnas KADIN di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (30/10/2026), Suahasil memaparkan dinamika perubahan dalam postur APBN. Ia menjelaskan bahwa proyeksi pendapatan negara yang awalnya ditargetkan sebesar Rp 3.154 triliun, kini harus ditingkatkan sekitar Rp 50 triliun guna mengimbangi lonjakan kebutuhan belanja.

"Kebutuhan belanja kita meningkat pesat. Jika sebelumnya kita proyeksikan di angka Rp 3.843 triliun, kini angka tersebut membengkak menjadi Rp 3.942 triliun," ungkap Suahasil di hadapan para pengusaha.
Also Read
Menurut Suahasil, lonjakan belanja ini dipicu oleh sejumlah peristiwa luar biasa (unprecedented event) yang sulit diprediksi sebelumnya. Salah satu faktor utamanya adalah rentetan bencana alam, mulai dari kejadian di wilayah Sumatera bagian utara hingga kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah lainnya. Penanganan dampak bencana ini saja telah menyedot tambahan anggaran sekitar Rp 60 triliun.
Selain faktor bencana, pemerintah juga harus menanggung beban tambahan pada sektor subsidi dan kompensasi energi, seperti BBM. Meski pemerintah terus berupaya agar subsidi lebih tepat sasaran, namun dalam jangka pendek, langkah ini dianggap krusial untuk menjaga stabilitas harga di pasar agar roda ekonomi masyarakat tetap berputar.
"Dari total skala belanja Rp 3.843 triliun tersebut, hampir Rp 200 triliun telah kami geser untuk memenuhi kebutuhan mendesak ini. Secara keseluruhan, total belanja memang naik sekitar Rp 300 triliun, dan inilah tantangan kami di Kementerian Keuangan untuk menyetel APBN agar tetap kredibel," tutupnya.




