JAKARTA – Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa Pemerintah Amerika Serikat resmi memberikan bantuan dana hibah sebesar US$ 227.000 atau setara dengan Rp4 miliar kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia. Dana fantastis ini dialokasikan khusus untuk misi pelestarian bangkai kapal perang legendaris, USS Houston, yang kini berada di dasar Teluk Banten.
Proyek konservasi sejarah Perang Dunia II ini dijadwalkan berjalan selama dua tahun, terhitung sejak akhir 2026 hingga pertengahan 2028. Fokus utama dari penggunaan dana tersebut adalah memperkuat pengawasan di area situs, mencegah aksi pencurian material kapal, serta meminimalisir dampak negatif dari praktik penangkapan ikan yang merusak ekosistem bawah laut.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan bahwa upaya menjaga situs sejarah bawah air ini memerlukan sinergi internasional yang kuat. Menurutnya, perlindungan warisan budaya ini tidak hanya soal sains, tetapi juga tentang keterlibatan langsung masyarakat pesisir.
Also Read
"Pelestarian warisan budaya bawah air membutuhkan kolaborasi lintas negara, dukungan ilmu pengetahuan, dan keterlibatan aktif masyarakat pesisir," ujar Trenggono sebagaimana dikutip pada Sabtu (24/10/2026).
Ia menambahkan bahwa menjaga situs USS Houston adalah bentuk tanggung jawab Indonesia dalam mengawal sejarah maritim dunia yang berada di wilayah perairan nasional. Berdasarkan data survei KKP pada tahun 2015 dan 2018, situs ini menghadapi ancaman nyata, mulai dari sampah laut, jaring nelayan yang tersangkut, hingga risiko kerusakan akibat aktivitas manusia yang tidak terkontrol.
Sebagai langkah konkret, KKP berencana membentuk dan melatih tiga kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) yang akan bertugas di wilayah Pulau Panjang, Karangantu, dan Bojonegara.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan KKP, I Nyoman Radiarta, menjelaskan bahwa program ini akan mencakup pelatihan intensif, pembuatan sistem pelaporan, pemantauan rutin, hingga edukasi publik melalui pameran dan platform digital.
"Pengawasan berbasis masyarakat ini diharapkan mampu memperkuat penegakan hukum oleh instansi terkait, sekaligus menumbuhkan kesadaran warga untuk menjaga aset maritim kita," ungkap Radiarta.
Sebagai informasi, USS Houston adalah kapal penjelajah berat Angkatan Laut Amerika Serikat yang karam bersama kapal Australia, HMAS Perth, dalam pertempuran hebat di Selat Sunda pada akhir Februari hingga awal Maret 1942. Keberadaan bangkai kapal ini bukan sekadar artefak, melainkan makam perang sekaligus saksi bisu sejarah penting bagi bangsa Indonesia, Amerika Serikat, dan Australia.




