Bahlil Lahadalia: Lifting Minyak 1,6 Juta Barel? Butuh Mukjizat!

Bahlil Lahadalia: Lifting Minyak 1,6 Juta Barel? Butuh Mukjizat!

Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia secara blak-blakan mengungkapkan keraguannya terhadap ambisius target lifting minyak nasional yang dipatok mencapai 1,6 juta barel per hari (bph) pada tahun 2029. Menurut Bahlil, angka yang lebih realistis berada di kisaran 800 ribu hingga 900 ribu bph, pernyataan ini disampaikannya dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI pada Kamis (22/1/2026).

Dalam forum tersebut, Bahlil menegaskan bahwa pencapaian angka 1,6 juta bph pada 2029, yang pernah terjadi pada periode 1996-1997, membutuhkan ‘mukjizat’. "Saya tidak terlalu percaya bahwa kita bisa melakukan peningkatan lifting sampai dengan 2029, 1,6 juta (Bph). Menurut saya itu hanya Allah yang bisa memberikan kita. Kita fair-fair saja, kita enggak usah baku tipu dalam ruangan ini," tegas Bahlil, menyerukan transparansi.

Bahlil Lahadalia: Lifting Minyak 1,6 Juta Barel? Butuh Mukjizat!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Meskipun demikian, Bahlil optimis bahwa target yang lebih moderat, yakni 800 ribu hingga 900 ribu barel per hari, masih sangat mungkin dicapai. "Tapi kalau 800 ribu, 900 ribu, insyaAllah masih bisa," ujarnya, memberikan sedikit harapan di tengah realitas yang menantang.

COLLABMEDIANET

Lebih lanjut, Bahlil menyoroti tantangan krusial yang tidak hanya berkutat pada peningkatan lifting, melainkan juga bagaimana menyeimbangkan produksi minyak domestik dengan kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) serta tingkat konsumsi nasional yang terus meningkat. Ia membeberkan bahwa konsumsi nasional saat ini mencapai 39-40 juta kiloliter per tahun, sementara produksi domestik hanya sekitar 14 juta kiloliter.

Kesenjangan ini berujung pada tingginya angka impor. Pada tahun 2025, impor bensin diperkirakan masih akan berada di kisaran 24-25 juta kiloliter. Namun, ada secercah harapan dengan beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Proyek ini diproyeksikan dapat menambah produksi sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun, sehingga impor bensin pada tahun 2026 diharapkan dapat turun menjadi sekitar 19 juta kiloliter.

Untuk mengatasi defisit dan mencapai kemandirian energi, Bahlil mendorong pemanfaatan energi nabati. Salah satu fokus utamanya adalah penggunaan etanol sebagai substitusi minyak mentah (crude oil). "Maka kita harus mempergunakan apa yang kita miliki yang namanya nabati. Ethanol itu adalah bagian terpenting dalam rangka melakukan subtitusi. Terhadap crude kita. Nah, ini bicara tentang kemandirian," pungkasnya, menekankan pentingnya inovasi energi lokal demi masa depan bangsa.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar