Redaksibengkulu.co.id – Pasar kripto kembali diwarnai gejolak. Setelah sepekan terakhir bergerak di zona merah, harga Bitcoin (BTC) sempat menyentuh level terendahnya di US$ 87.563,4 atau setara Rp 1,4 miliar pada Kamis (22/1). Namun, di tengah koreksi yang signifikan tersebut, para investor beraset besar, atau yang dikenal sebagai ‘whale’, justru terpantau melakukan aksi borong besar-besaran. Meskipun sempat terkoreksi 5,94% dan kini berada di kisaran US$ 89.479,88 (sekitar Rp 1,5 miliar) pada Sabtu (24/1), meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa terkait isu Greenland dan ancaman tarif disebut-sebut sedikit meredakan tekanan pasar.
Fenomena menarik ini terekam saat Indeks Fear & Greed kripto sedikit merangkak naik ke level 34, meski masih dalam kategori ‘fear’. Pada momen koreksi tersebut, tercatat individu dengan kepemilikan aset besar mengakumulasi hingga 1.000 BTC. Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menyoroti pola ini sebagai indikator kuat menjelang fase rebound, terutama ketika investor ritel cenderung melakukan aksi jual. "Ketika whale aktif membeli di bawah US$ 90.000, itu biasanya mengindikasikan area tersebut dianggap menarik untuk akumulasi," jelas Fyqieh. Akumulasi masif oleh ‘whale’ ini, menurutnya, mengirimkan sinyal kepercayaan jangka panjang terhadap Bitcoin, meskipun volatilitas pasar masih tinggi dalam jangka pendek.
Kendati demikian, Fyqieh mengingatkan bahwa potensi rebound ini masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut. Tekanan dari sisi makroekonomi global serta arus dana institusional yang belum sepenuhnya mereda menjadi faktor penentu. Dari perspektif teknikal, Bitcoin masih dihadapkan pada resistensi jangka pendek di area rata-rata pergerakan sepekan, yakni pada level US$ 92.864. Penguatan harga BTC baru akan terkonfirmasi jika mampu bertahan dan menembus level krusial tersebut.

Related Post
Namun, jalan menuju penguatan penuh Bitcoin tidaklah mulus. Beberapa faktor pembatas masih membayangi. Salah satunya adalah tekanan arus keluar dari ETF Bitcoin yang mencapai sekitar US$ 707,3 juta atau setara Rp 11,8 triliun pada 21 Januari lalu. Selain itu, hambatan teknikal yang lebih substansial terlihat pada rata-rata pergerakan 200 hari di sekitar US$ 105.541, sebuah level yang masih cukup jauh dari posisi harga saat ini. Ke depan, para pelaku pasar akan terus mencermati langkah akumulasi ‘whale’ serta data spot exchange outflows sebagai indikator pasokan Bitcoin yang semakin ketat.
Dari arena pasar global, sentimen positif sempat muncul dari pernyataan mantan Presiden AS Donald Trump yang memuji penasihat ekonominya, Kevin Hassett. Namun, optimisme ini disebut akan tertahan oleh data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan. Kondisi tersebut mendorong ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed mundur hingga sekitar Juni 2026, meskipun pasar memproyeksikan adanya dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini. Mundurnya potensi Hassett menjadi Ketua The Fed, yang sebelumnya dipandang sebagai figur kurang independen dan cenderung dovish sesuai keinginan Trump untuk memangkas suku bunga secara agresif, justru dinilai meredakan kekhawatiran pasar.
Dengan demikian, pasar Bitcoin saat ini berada dalam persimpangan antara tekanan makroekonomi dan sinyal kepercayaan dari investor institusional besar. Volatilitas diproyeksikan masih akan mewarnai pergerakan harga, namun aksi borong oleh ‘whale’ bisa menjadi pertanda awal dari potensi pemulihan jangka panjang yang patut dicermati.









Tinggalkan komentar