JAKARTA – Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa PT Pertamina Patra Niaga terus menunjukkan komitmen nyata dalam memperkuat kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir. Melalui inisiatif bertajuk Program Sekolah Alam Anak Pesisir di Desa Cendi Manik, Nusa Tenggara Barat, perusahaan ini mengintegrasikan aspek pendidikan, pelestarian ekosistem, hingga penguatan ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Program yang telah diinisiasi sejak tahun 2014 ini bertujuan untuk menciptakan ruang belajar yang inklusif bagi anak-anak di wilayah pesisir. VP Community Involvement Development PT Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, menjelaskan bahwa fokus utama program ini adalah menumbuhkan kemandirian dan kepedulian lingkungan sejak dini.

"Kami ingin menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan. Kami percaya integrasi antara pendidikan, ekologi, dan ekonomi akan memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat," ungkap Dian dalam keterangan resminya, Minggu (11/10/2026).
Also Read
Hingga saat ini, program tersebut telah menyentuh 135 penerima manfaat dengan memanfaatkan alam sebagai laboratorium raksasa. Anak-anak diajak untuk memahami ekosistem mangrove secara langsung, yang secara tidak langsung membuka wawasan mereka mengenai potensi ekonomi di tanah kelahiran mereka.
Secara konkret, dampak positif program ini terlihat dari tiga pilar utama yang dikenal dengan pendekatan 3E (Ekologi, Edukasi, dan Ekonomi):
1. Aspek Ekologi: Program ini telah sukses melakukan rehabilitasi pesisir melalui penanaman 4.500 bibit mangrove. Langkah ini memiliki nilai lingkungan yang sangat tinggi, dengan potensi penyimpanan karbon mencapai 80,763 ton CO2 per hektare.
2. Aspek Edukasi: Tercatat sebanyak 1.772 peserta telah mengikuti 11 rangkaian kegiatan pembelajaran. Selain itu, terdapat intensitas kunjungan edukasi ke destinasi mangrove sebanyak 860 kali setiap tahunnya.
3. Aspek Ekonomi: Inisiatif ini terbukti mampu mendongkrak pendapatan kelompok masyarakat berbasis potensi lokal sebesar Rp 24 juta per tahun. Selain itu, penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dalam program ini berhasil menciptakan efisiensi biaya energi hingga Rp 6,6 juta per tahun.
Keunikan dari Sekolah Alam Anak Pesisir ini terletak pada kurikulumnya yang tidak kaku. Siswa tidak hanya duduk di dalam kelas, tetapi belajar melalui interaksi langsung dengan alam, seperti merawat mangrove, mengenal ekosistem laut, hingga mempelajari permainan tradisional.
Menatap masa depan, pengembangan program ini dilakukan secara sistematis. Setelah fokus pada pembangunan Rumah Literasi di tahun 2024 dan penyusunan Kurikulum 3E pada 2025, pada tahun 2026 ini Pertamina fokus mengembangkan ‘Pertakid’ sebagai media pembelajaran inovatif bagi para peserta didik di Sekolah Alam Anak Pesisir.




