China Krisis! Lansia Lebih Banyak dari Anak

Author Image

Hadi Wibawa

31 Oktober 2026, 23:46 WIB

Redaksibengkulu.co.id melaporkan sebuah fenomena demografi yang mengkhawatirkan tengah melanda Negeri Tirai Merah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, beban ekonomi keluarga di China kini lebih banyak terserap untuk membiayai kebutuhan hidup penduduk lanjut usia dibandingkan membiayai anak-anak. Berdasarkan data terbaru dari Biro Statistik Nasional China, rasio ketergantungan lansia terhadap penduduk usia produktif telah menyentuh angka 23% pada tahun lalu, sedikit melampaui rasio ketergantungan anak yang berada di angka 22%.

Melansir laporan BBC, pergeseran demografi ini diduga kuat menjadi pemicu utama menyusutnya jumlah angkatan kerja di China. Kondisi ini diprediksi akan memberikan efek domino terhadap stabilitas ekonomi nasional maupun pertumbuhan ekonomi global di masa mendatang. Saat ini, China tercatat memiliki lebih dari 223 juta penduduk berusia di atas 65 tahun, atau mencakup hampir 16% dari total populasi. Angka ini secara signifikan lebih besar dibandingkan jumlah anak-anak berusia di bawah 14 tahun yang hanya berjumlah sekitar 213 juta jiwa.

China Krisis! Lansia Lebih Banyak dari Anak
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Menghadapi ancaman penuaan populasi ini, pemerintah China tengah berupaya keras melakukan berbagai langkah strategis. Salah satu fokus utamanya adalah mendorong generasi muda untuk segera menikah dan melahirkan lebih banyak anak guna menyeimbangkan komposisi penduduk.

Namun, tantangan ini tidaklah mudah. Mu Zheng, seorang dosen sosiologi dari National University of Singapore, memberikan catatan kritis bahwa fenomena ini dapat menghambat ambisi besar China. Menurutnya, lonjakan jumlah lansia berpotensi membatasi daya beli masyarakat serta memperlambat laju pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

Jika ditelusuri lebih jauh, fenomena "penuaan populasi" ini merupakan dampak jangka panjang dari kebijakan satu anak yang pernah diterapkan pemerintah China sejak tahun 1980 hingga 2015. Kebijakan yang sempat kontroversial tersebut memang berhasil menekan pertumbuhan penduduk secara drastis, dengan estimasi mencegah sekitar 400 juta kelahiran. Namun, konsekuensi yang kini dihadapi adalah berkurangnya jumlah generasi muda yang seharusnya menjadi tulang punggung ekonomi untuk menopang jumlah kerabat lanjut usia yang terus melonjak.

Related Post