Redaksibengkulu.co.id – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal menghantui perusahaan-perusahaan minyak dan gas (migas) raksasa di Amerika Serikat (AS). ExxonMobil, Chevron, hingga ConocoPhillips, satu per satu mengumumkan rencana pemangkasan ribuan karyawan. Apa sebenarnya yang menjadi biang keladi dari situasi pelik ini?
Penurunan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu faktor utama pemicu PHK. Harga minyak mentah AS tercatat turun 13% sepanjang tahun ini. Kondisi ini diperparah dengan kebijakan OPEC+ yang agresif meningkatkan pasokan ke pasar global. Akibatnya, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat diperdagangkan di bawah US$ 63 per barel.
Selain itu, konsolidasi industri migas melalui akuisisi besar-besaran yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar juga turut berkontribusi. ExxonMobil, misalnya, berencana memangkas 2.000 posisi sebagai bagian dari restrukturisasi perusahaan. Chevron bahkan mengumumkan pemangkasan 20% tenaga kerjanya hingga tahun 2026, sementara ConocoPhillips akan memangkas hingga 25% tenaga kerjanya.

Related Post
Secara keseluruhan, sektor energi di AS telah memangkas 9.000 posisi hingga Agustus tahun ini. Angka ini melonjak 30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Situasi ini tentu menjadi pukulan telak bagi ribuan pekerja dan keluarga mereka, serta menimbulkan kekhawatiran akan masa depan industri migas di AS.









Tinggalkan komentar