Guncang Industri! Netflix PHK 1.000 Karyawan

Author Image

Hadi Wibawa

15 Oktober 2026, 08:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Raksasa layanan streaming dunia, Netflix, secara mengejutkan mengumumkan kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang menyasar sekitar 1.000 karyawannya. Langkah ini setara dengan pemangkasan 6% dari total tenaga kerja mereka, menjadikannya gelombang pengurangan staf terbesar yang dialami perusahaan sejak tahun 2022 silam.

Keputusan pahit ini dikonfirmasi melalui surel resmi yang dikirimkan oleh Co-CEO Netflix, Greg Peters dan Ted Sarandos, kepada seluruh staf pada Rabu waktu setempat. Berdasarkan informasi yang dihimpun, pengurangan personel ini akan difokuskan pada divisi-divisi krusial, mulai dari tim teknologi dan produk, departemen hukum, hingga bagian sumber daya manusia (SDM).

Guncang Industri! Netflix PHK 1.000 Karyawan
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Dalam memo internalnya, manajemen menekankan bahwa langkah ini diambil demi menjaga kedisiplinan dalam penggunaan sumber daya. "Misi kami adalah menghibur dunia, sebuah ambisi yang sangat besar. Untuk mencapainya, kami harus sangat disiplin dalam menentukan prioritas tenaga kerja. Meski demikian, bisnis kami tetap kuat dan berada di jalur yang tepat untuk mencapai target tahunan," ungkap Peters dan Sarandos.

Kondisi ini mencerminkan tekanan hebat yang dihadapi Netflix di tengah lanskap media yang terus berubah. Meskipun perusahaan memiliki sekitar 16.000 karyawan pada akhir tahun lalu, bayang-bayang persaingan ketat dengan platform seperti YouTube dan TikTok mulai mengancam dominasi mereka. Berbeda dengan Netflix yang berbasis langganan berbayar, platform berbasis konten buatan pengguna (user-generated content) mampu menarik perhatian penonton secara gratis, yang memberikan keunggulan biaya yang signifikan.

Para investor pun mulai menunjukkan kekhawatiran terkait tingkat keterlibatan (engagement) pengguna, yakni seberapa lama penonton menghabiskan waktu di platform tersebut. Hal ini berdampak langsung pada performa pasar, di mana saham Netflix tercatat telah merosot sekitar 25% sepanjang tahun ini.

Selain itu, kegagalan Netflix dalam manuver akuisisi aset besar seperti studio Warner Bros Discovery di awal tahun ini turut memperkeruh suasana. Analis senior dari eMarketer, Ross Benes, menilai bahwa Netflix saat ini sedang berada di persimpangan jalan. Menurutnya, ketergantungan pada model bisnis berlangganan mulai mencapai titik jenuh.

"Mereka perlu mencari sumber pendapatan baru untuk melakukan diversifikasi agar tidak hanya bergantung pada biaya langganan. Namun, upaya diversifikasi ini menjadi tantangan besar bagi mereka ke depannya," pungkas Benes.

Related Post