Hanya 15 BUMN yang Setor Dividen, Kok Bisa?

Author Image

Hadi Wibawa

6 Oktober 2026, 05:25 WIB

JAKARTA – Redaksibengkulu.co.id melaporkan adanya temuan mengejutkan terkait kondisi kesehatan finansial Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menyoroti ketimpangan tajam antara besarnya nilai aset negara dengan realisasi pendapatan atau arus kas yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan pelat merah tersebut.

CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa meskipun secara nominal aset yang dikelola BUMN sangat fantastis, namun imbal hasil (yield) yang masuk ke kas negara masih tergolong minim jika dibandingkan dengan skala asetnya.

Hanya 15 BUMN yang Setor Dividen, Kok Bisa?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Aset-aset BUMN ini sangat banyak. Secara nilai aset kita besar, namun jika dilihat dari sisi arus kas atau pendapatannya, perbandingannya masih sangat kecil terhadap aset yang ada," ujar Rosan saat memberikan keterangan di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (5/10/2026).

Data yang dihimpun menunjukkan potret yang kontras. Dari total 1.074 entitas BUMN yang ada, kontribusi dividen sebesar 97 persen ternyata hanya bersumber dari 15 perusahaan saja. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa lebih dari separuh jumlah BUMN di Indonesia justru sedang mengalami kerugian.

"Dari sekitar 1.074 perusahaan di awal, yang menyumbang 97 persen dividen itu hanya 15 perusahaan. Sisanya? Sebagian besar, sekitar 52 persen, justru mencatatkan kerugian," tambah Rosan sebagaimana dikutip dari redaksibengkulu.co.id.

Menanggapi situasi kritis ini, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi khusus kepada Danantara untuk segera melakukan optimalisasi aset negara. Tujuannya agar seluruh aset tersebut dapat bekerja lebih produktif dan memberikan keuntungan maksimal bagi negara melalui perencanaan yang terukur dan terstruktur.

Sebagai lembaga sovereign wealth fund, Danantara berencana membuka pintu lebar-lebar bagi sektor swasta (private sector) untuk mengelola lini bisnis BUMN yang tidak masuk dalam kategori strategis nasional. Langkah ini diambil guna meningkatkan efisiensi pengelolaan aset.

"Jika dunia usaha atau sektor swasta mampu mengelola dengan lebih baik dan efisien, terutama untuk bidang yang bukan merupakan kepentingan strategis, kami akan memberikan ruang kerja sama yang lebih luas," tegas Rosan.

Saat ini, tim Danantara tengah melakukan analisis mendalam terhadap portofolio aset BUMN di berbagai sektor vital. Sektor-sektor tersebut mencakup infrastruktur jalan tol, bandara, pelabuhan, hingga sektor energi seperti minyak dan gas bumi (oil and gas), guna menentukan langkah optimalisasi ke depannya.

Related Post