JAKARTA – Melansir laporan redaksibengkulu.co.id, pemerintah kini tengah memperketat pengawalan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menyusul fluktuasi harga minyak mentah dunia yang sempat melonjak tajam. Kenaikan harga minyak yang menyentuh angka US$ 113 hingga US$ 114 per barel menjadi tantangan serius yang menuntut kesiapsiagaan fiskal negara.
Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, mengungkapkan bahwa meskipun tren harga minyak menunjukkan sedikit penurunan dalam beberapa hari terakhir, lonjakan ekstrem sebelumnya telah menjadi alarm bagi stabilitas anggaran. Pemerintah harus memastikan APBN tetap tangguh menghadapi guncangan harga energi global tersebut.

"Kita harus melakukan langkah kesiapsiagaan untuk APBN karena harga minyak sempat menembus angka US$ 113 bahkan US$ 114 per barel," ujar Suahasil saat memberikan keterangan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2026).
Also Read
Selain berdampak pada beban anggaran, kenaikan harga minyak dunia ini juga memberikan efek domino terhadap pasar keuangan domestik, yakni meningkatnya imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN). Fenomena ini merupakan dampak dari sentimen global yang merespons dinamika harga komoditas energi.
Namun, di balik ketidakpastian ekonomi global tersebut, instrumen keuangan Indonesia seperti SBN dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) justru tetap menjadi primadona bagi investor mancanegara. Hal ini terbukti dengan derasnya aliran modal asing (capital inflow) yang masuk ke pasar keuangan Indonesia.
Suahasil memaparkan bahwa sepanjang periode Januari hingga akhir Oktober, Indonesia mencatatkan arus modal masuk yang sangat positif. "Kami telah melaporkan kepada Presiden bahwa terjadi inflow sekitar Rp 126 triliun hingga akhir Oktober kemarin. Ini merupakan angka yang sangat baik bagi stabilitas ekonomi kita," jelasnya.
Menutup keterangannya, Suahasil menegaskan bahwa hingga akhir Oktober, pengelolaan APBN masih berjalan sesuai dengan koridor yang direncanakan (on track), baik dari sisi pendapatan maupun belanja negara. Pemerintah optimis bahwa daya tahan APBN akan tetap terjaga kuat hingga penutupan tahun anggaran mendatang, meskipun pasar global masih menunjukkan volatilitas yang tinggi.




