Harga Minyak Meroket, Bahlil Ungkap Fakta Mengejutkan!

Author Image

Hadi Wibawa

17 September 2026, 17:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, baru-baru ini menyoroti fenomena masifnya peralihan konsumen dari Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi ke BBM bersubsidi. Menurut Bahlil, tren ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah global yang kembali menyentuh level tinggi, menciptakan disparitas harga yang signifikan di pasar domestik.

Dalam keterangannya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis lalu, Bahlil menjelaskan bahwa harga minyak dunia kini telah melampaui angka US$100 per barel. Kondisi ini secara otomatis mendorong kenaikan harga BBM nonsubsidi di dalam negeri. Ironisnya, di sisi lain, pemerintah tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi agar tidak naik, yang kemudian memperlebar jurang perbedaan harga antara kedua jenis BBM tersebut. "Tentu saja, masyarakat akan cenderung memilih yang lebih terjangkau," ujarnya.

Harga Minyak Meroket, Bahlil Ungkap Fakta Mengejutkan!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Menyikapi fenomena ini, Bahlil dengan tegas mengimbau kepada masyarakat yang tergolong mampu, khususnya para pemilik kendaraan mewah, untuk tidak memanfaatkan BBM bersubsidi. Ia mengingatkan bahwa alokasi subsidi ini sejatinya diperuntukkan bagi kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan dan berhak menerimanya. "Saudara-saudara kita yang mampu, yang menggunakan mobil-mobil bagus, mohon kesadarannya. Subsidi ini adalah hak bagi mereka yang kurang mampu," tegas Bahlil, menyerukan rasa keadilan.

Lebih lanjut, Bahlil mengidentifikasi peralihan penggunaan BBM ini sebagai salah satu faktor utama di balik antrean panjang yang kerap terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), seperti yang belakangan terlihat di Makassar, Sulawesi Selatan. Membludaknya antrean tersebut, menurutnya, adalah cerminan dari banyaknya konsumen yang beralih dari BBM nonsubsidi dengan oktan tinggi (RON 92, 95) ke BBM bersubsidi yang lebih murah. "Jelas terlihat ada pergeseran signifikan dari pengguna BBM nonsubsidi ke subsidi," pungkasnya, menggarisbawahi dampak langsung dari kebijakan harga.

Related Post