Harga Telur Anomali, Mentan Bakal Buru Pelaku!

Author Image

Hadi Wibawa

27 Oktober 2026, 14:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyoroti adanya ketidakwajaran atau anomali pada harga telur dan ayam di pasar saat ini. Fenomena ini dinilai janggal karena meskipun pasokan di tingkat produsen melimpah, harga di tingkat konsumen justru melonjak naik, yang memicu terjadinya inflasi.

Dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Selasa (27/10/2026), Amran menegaskan bahwa seharusnya terjadi korelasi yang berbanding lurus antara harga di peternak dan konsumen. Jika harga di tingkat peternak turun akibat produksi yang melimpah, maka harga di pasar seharusnya ikut merosot. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya.

Harga Telur Anomali, Mentan Bakal Buru Pelaku!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Ada anomali di sini. Harga di peternak turun, tapi harga di konsumen justru naik dan menyebabkan inflasi. Ini menandakan ada pihak tidak bertanggung jawab yang bermain, dan kami akan mengejar mereka," tegas Amran.

Pemerintah tidak ingin membiarkan praktik curang ini terus berlanjut. Amran bahkan telah berkoordinasi dengan Bareskrim Polri untuk mengawasi serta menindak tegas oknum yang diduga memainkan rantai distribusi. Langkah tegas ini sebelumnya juga telah dilakukan pemerintah dalam menangani kasus beras fortifikasi palsu yang tidak sesuai standar mutu.

Kondisi ini mulai terdeteksi saat Amran melakukan rapat evaluasi inflasi bersama Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Kabinet Paripurna, Amran mengungkapkan bahwa harga telur di tingkat peternak sempat anjlok hingga menyentuh angka Rp 21 ribu per kilogram akibat produksi yang sangat melimpah.

Guna menekan harga di tingkat peternak, pemerintah sebenarnya telah mengambil langkah strategis. Amran telah meminta Badan Gizi Nasional (BGN) untuk meningkatkan frekuensi penyerapan telur guna mendukung program Makan Bergizi Gratis. Selain itu, koordinasi untuk ekspor telur juga telah dilakukan guna menyerap surplus produksi.

Namun, meski upaya penyerapan telah ditingkatkan, harga di tingkat petani tetap belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Hal ini memperkuat dugaan adanya permainan distribusi yang merugikan peternak sekaligus membebani masyarakat sebagai konsumen akhir.

Related Post