Redaksibengkulu.co.id melaporkan, Presiden terpilih Prabowo Subianto kembali menggebrak dengan gagasan ambisiusnya untuk merevolusi sektor kesehatan dan pendidikan di Indonesia. Dalam sebuah forum internasional di London, Prabowo memaparkan rencana pembangunan rumah sakit pendidikan berstandar internasional di setiap kampus, sebuah langkah yang diyakini mampu menghemat devisa negara hingga Rp 101 triliun setiap tahunnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam forum UK-Indonesia Education Roundtable yang digelar di Lancaster House, London, pada Selasa (20/1) lalu. Menurutnya, tingginya pengeluaran masyarakat Indonesia untuk berobat ke luar negeri, yang mencapai US$ 6 miliar atau setara Rp 101 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.890 per dolar AS), merupakan potensi besar yang bisa dialihkan untuk memperkuat fasilitas kesehatan di dalam negeri.
"Menurut pendapat saya, jika kita melakukan itu (membangun rumah sakit pendidikan berstandar internasional di setiap kampus), mungkin kita bisa menghemat US$ 6 miliar setiap tahun. Uang tersebut kemudian dapat disalurkan kembali ke universitas dan rumah sakit ini," ujar Prabowo, mengutip keterangan resmi dari Biro Pers, Media, dan Informasi (BPMI) Sekretariat Presiden yang dirilis baru-baru ini.

Related Post
Tak berhenti di situ, Prabowo juga mengumumkan rencana pendirian sepuluh universitas baru yang akan berfokus pada disiplin ilmu krusial seperti kedokteran, kedokteran gigi, farmasi, serta bidang sains dan teknologi. Ia menegaskan bahwa seluruh universitas ini akan dibangun dengan mengadopsi standar internasional tertinggi, khususnya standar pendidikan dari universitas-universitas terbaik di Inggris, serta menjadikan Bahasa Inggris sebagai medium pengajaran utama.
"Saya ingin menggunakan standar Inggris, yaitu standar pendidikan tertinggi dari universitas-universitas terbaik di Inggris," tambahnya, menunjukkan komitmen terhadap kualitas global.
Pemerintah optimistis seluruh persiapan akan dapat diselesaikan dengan baik, sehingga universitas-universitas baru tersebut diharapkan sudah bisa mulai menerima mahasiswa pada tahun 2028.
Inisiatif ini juga dilandasi oleh fakta bahwa Indonesia saat ini mengalami defisit tenaga medis yang cukup besar. Prabowo mencatat, secara nasional, Indonesia masih kekurangan sekitar 140.000 dokter dan dokter gigi, sementara jumlah lulusan setiap tahunnya masih sangat terbatas untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Untuk mengatasi kesenjangan ini, Indonesia juga akan membuka pintu lebar bagi dosen dan profesor asing, termasuk melalui skema profesor tamu dari universitas mitra, sebagai bagian dari upaya kolaboratif untuk memajukan pendidikan dan kesehatan di tanah air.









Tinggalkan komentar