Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) melontarkan peringatan keras terkait tantangan besar yang membayangi pengembangan kawasan industri di Tanah Air. Salah satu "hantu" utama yang menghambat laju investasi adalah persoalan tata ruang yang tak kunjung usai.
H. Akhmad Ma’ruf Maulana, Ketua Umum HKI, menjelaskan bahwa kendala utama terletak pada lambatnya penerbitan Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR) atau RKKPR. Padahal, regulasi telah mengamanatkan percepatan proses ini. "Banyak kawasan industri, bahkan yang berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN), masih saja tersandung pada urusan perizinan dasar ini," tegas Akhmad dalam pernyataan tertulisnya, Kamis (1/1/2026). Ia menambahkan, "Ketidaksinkronan antara Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) dengan berbagai kebijakan sektoral seringkali memaksa para investor menanti lebih lama dari waktu yang seharusnya."
Akhmad Ma’ruf Maulana mengibaratkan tata ruang sebagai "urat nadi" bagi pengembangan kawasan industri. Ia berargumen bahwa selama perizinan dasar belum harmonis dan sinkron, upaya percepatan investasi akan terus-menerus terhambat. Oleh karena itu, HKI mendesak agar persoalan krusial ini menjadi prioritas utama penyelesaian lintas kementerian pada tahun 2026 mendatang.

Related Post
Tak hanya masalah tata ruang, HKI juga menyoroti kendala lain yang tak kalah penting, yakni ketersediaan utilitas dan infrastruktur dasar. Pasokan listrik yang belum merata dan ketersediaan gas bumi dengan harga tertentu (HGBT) kerap tidak sejalan dengan kebutuhan ekspansi industri. Lebih lanjut, beberapa kawasan industri masih bergulat dengan hambatan akses logistik yang secara langsung berdampak pada peningkatan biaya produksi serta efisiensi distribusi barang.
"Apabila seluruh hambatan, baik dari sisi tata ruang maupun utilitas, dapat dituntaskan secara komprehensif, kami meyakini tahun 2026 akan menjadi momentum emas bagi percepatan investasi," papar Akhmad. Ia menambahkan, dengan dukungan yang tepat, kawasan industri memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi mesin utama pendorong pertumbuhan ekonomi nasional, guna mencapai target ambisius 8%.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, HKI mencatat tren positif sepanjang tahun 2025. Investor-investor kakap dari Jepang, Singapura, Tiongkok, Korea, bahkan hingga Rusia dan Eropa Timur, berbondong-bondong datang, menunjukkan minat serius pada sektor-sektor strategis seperti baterai & kendaraan listrik (EV), logistik modern, energi terbarukan, pusat data, hingga manufaktur berteknologi tinggi. Koridor-koridor industri di Kepulauan Riau (Batam-Bintan-Karimun), Jawa Barat (Bekasi-Karawang-Purwakarta-Subang), serta Jawa Tengah dan Jawa Timur, menjadi magnet utama kunjungan para investor. Fenomena ini tak lepas dari peningkatan kesiapan infrastruktur dan dukungan kuat dari pemerintah daerah maupun pusat.









Tinggalkan komentar