Investor Borong SBN, Modal Asing Rp 131 T Masuk!

Author Image

Hadi Wibawa

8 Oktober 2026, 20:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id melaporkan bahwa ekonomi Indonesia menunjukkan tren positif dengan derasnya aliran modal asing yang masuk ke pasar obligasi tanah air. Berdasarkan data terbaru, nilai investasi asing yang mengalir melalui instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Bank Indonesia (SBI) telah menembus angka Rp 131 triliun untuk periode 1 Januari hingga 7 Oktober 2026.

Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, menyatakan bahwa fenomena ini merupakan indikator kuat atas tingkat kepercayaan investor global terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Dalam sambutannya di acara Investor Daily Summit di Hotel Raffles, Jakarta, Kamis (8/10/2026), ia menekankan bahwa tingginya minat ini membuktikan kredibilitas instrumen keuangan negara di mata dunia.

Investor Borong SBN, Modal Asing Rp 131 T Masuk!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Aliran modal masuk ke Indonesia tercatat positif sebesar Rp 131 triliun sepanjang tahun ini hingga 7 Oktober kemarin. Ini menunjukkan betapa dipercayanya perekonomian kita," ujar Suahasil.

Ia menjelaskan bahwa SBN dan surat berharga dari Bank Indonesia telah mendapatkan pengakuan internasional sebagai instrumen yang sangat kredibel. Hal ini membuat investor merasa aman untuk menanamkan modalnya di pasar keuangan Indonesia.

Lebih lanjut, Suahasil memaparkan bahwa premi bunga Indonesia saat ini berada di level 188 basis poin. Angka ini dinilai sangat kompetitif karena lebih rendah dibandingkan negara berkembang lainnya seperti India, Filipina, Afrika Selatan, Meksiko, dan Brasil. Menurutnya, semakin kecil selisih suku bunga (spread) yang dimiliki Indonesia, semakin kuat pula kepercayaan pasar terhadap pengelolaan ekonomi makro nasional.

"Dengan spread yang lebih kecil, kita berhasil menjaga arus modal masuk (capital inflow), baik melalui SBN maupun surat berharga Bank Indonesia," tambahnya.

Meski demikian, Suahasil juga memberikan catatan mengenai dinamika global. Ia menyebutkan adanya tantangan berupa perpindahan modal ke Amerika Serikat (AS) akibat kebijakan suku bunga di sana. Saat ini, suku bunga AS berada pada level tertinggi dalam hampir 23 tahun terakhir, yakni mencapai 5,28%.

Kondisi suku bunga AS yang sangat tinggi tersebut membuat investor cenderung mengejar imbal hasil (yield) yang lebih besar di negara maju. "Banyak modal kembali ke Amerika karena suku bunganya relatif tinggi. Hal inilah yang memengaruhi pergerakan modal di negara-negara berkembang seperti Indonesia," pungkasnya.

Related Post