redaksibengkulu.co.id – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren positif pada penutupan perdagangan Jumat (23/10). Indeks berhasil menguat 0,95% ke level 5.439,26, yang didorong oleh lonjakan signifikan pada sejumlah saham unggulan seperti VKTR yang melesat 16,96%, MORA naik 9,46%, serta DSSA yang menguat 6,16%.
Meski demikian, pasar masih dibayangi oleh aksi jual investor asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp1,62 triliun di pasar reguler. Di sisi lain, sektor Consumer Cyclical menjadi primadona dengan kenaikan tertinggi mencapai 3,14%. Kondisi pasar global juga memberikan tekanan, di mana tiga indeks utama di Amerika Serikat, yakni Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq, terpantau bergerak melemah.

Lonjakan Performa Darma Henwa (DEWA)
Also Read
Kabar membanggakan datang dari emiten pertambangan, Darma Henwa (DEWA). Perusahaan ini melaporkan pertumbuhan kinerja yang sangat impresif pada periode sembilan bulan pertama tahun 2026. Pendapatan DEWA meroket menjadi Rp5,10 triliun, tumbuh 9,71% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Yang paling mencolok adalah lonjakan laba bersih yang mencapai Rp513,08 miliar, atau meningkat tajam sebesar 114,55%. Keberhasilan ini didorong oleh kenaikan laba bruto sebesar 53,72% menjadi Rp1,03 triliun, sementara efisiensi pada beban pokok pendapatan berhasil dijaga tetap rendah. Meski demikian, investor perlu mencermati kenaikan liabilitas perusahaan yang kini menyentuh angka Rp9,86 triliun.
Rencana Besar Rights Issue PACK
Di sisi lain, Abadi Nusantara Hijau Investama (PACK) tengah bersiap melakukan langkah korporasi besar melalui skema rights issue atau Penambahan Modal dengan HMETD II. PACK berencana menerbitkan hingga 100 miliar saham baru dengan target perolehan dana mencapai US$463 juta atau setara Rp8,20 triliun.
Dana segar tersebut rencananya akan dialokasikan untuk melunasi pinjaman, memperkuat modal kerja, serta melakukan akuisisi strategis. PACK berencana mengakuisisi 100% saham Denway Development Limited (DDL) senilai US$324 juta dan PT Bukit Makmur Istindo Nikeltama senilai US$79 juta yang memiliki konsesi tambang nikel luas di Morowali. Perlu dicatat, pemegang saham yang tidak mengambil haknya dalam aksi ini berisiko mengalami dilusi kepemilikan hingga 74,60%.
Peluang Sat Nusapersada (PTSN)
Sementara itu, Sat Nusapersada (PTSN) mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan sebesar 65,20% secara tahunan (YoY) pada semester pertama 2026. Walaupun laba bersih mengalami koreksi akibat kenaikan beban pokok, PTSN memiliki prospek cerah melalui program pemerintah terkait pembagian ponsel gratis bagi 25 juta warga. Program ini berpotensi menjadi ladang bisnis baru bagi perseroan dalam sektor perakitan dan produksi perangkat elektronik.
Disclaimer: Seluruh informasi dalam artikel ini bersifat edukasi dan informatif, bukan merupakan perintah atau ajakan untuk melakukan transaksi jual atau beli saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor.




