Artikel:
Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,4 triliun untuk periode Januari hingga September 2025. Capaian ini mengalami penurunan signifikan sebesar 56% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 3,2 triliun.
Penurunan laba ini terjadi di tengah gejolak harga batu bara global yang terus menurun sepanjang tahun 2025. Meskipun laba bersih tergerus, pendapatan PTBA masih menunjukkan pertumbuhan positif, naik 2% menjadi Rp 31,3 triliun dari sebelumnya Rp 30,65 triliun. Selain itu, EBITDA perusahaan tercatat sebesar Rp 3,6 triliun dengan margin EBITDA 11% hingga akhir kuartal III 2025.

Related Post
Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menyatakan bahwa perusahaan berhasil mempertahankan kinerja operasional yang solid dan menjaga profitabilitas melalui efisiensi biaya serta optimalisasi pasar domestik, meskipun menghadapi tekanan harga batu bara. "Hal ini tercermin dari pertumbuhan volume produksi dan penjualan yang tetap positif, serta realisasi capex yang mendukung keberlanjutan operasi dan proyek logistik strategis," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (1/11/2025).
Volume penjualan PTBA meningkat 8% secara tahunan. Namun, pelemahan harga batu bara, dengan Newcastle Index turun 22% dan ICI-3 turun 16%, berdampak pada penurunan harga jual rata-rata sebesar 6%. Hingga September 2025, penjualan domestik PTBA mencapai 56%, sementara 44% sisanya merupakan ekspor. Lima negara tujuan ekspor terbesar adalah Bangladesh, India, Filipina, Vietnam, dan Korea Selatan.
Beban pokok pendapatan PTBA tercatat sebesar Rp 27,8 triliun, naik 11% secara tahunan. Kenaikan ini sejalan dengan peningkatan volume operasional, baik produksi batu bara yang naik 9% maupun angkutan yang naik 8%. Meskipun rasio pengupasan (stripping ratio) sedikit menurun menjadi 5,98x dari 6,02x tahun lalu, biaya bahan bakar meningkat akibat pencabutan subsidi FAME pada biodiesel dan kewajiban penggunaan B40, yang menyebabkan harga BBM naik 8%.
Beban umum dan administrasi PTBA naik Rp 52,4 miliar atau 4% dalam sembilan bulan pertama 2025. Sementara itu, beban penjualan turun 1% atau Rp 7,1 miliar. Total aset perusahaan naik 3% menjadi Rp 42,84 triliun per September 2025, dari Rp 41,78 triliun tahun lalu. Total liabilitas naik 15% menjadi Rp 22,06 triliun dibandingkan Rp 19,14 triliun pada akhir 2024. Sementara itu, total ekuitas menurun 8% menjadi Rp 20,77 triliun dari sebelumnya Rp 22,64 triliun.








Tinggalkan komentar