Mega Proyek Listrik RI-Singapura: Harga Belum Win-Win!

Author Image

Hadi Wibawa

7 Juli 2026, 08:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Proyek ambisius ekspor listrik dari Indonesia ke Singapura kini memasuki babak baru yang krusial. Setelah pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (6/7/2026), Indonesia secara resmi menunjuk BPI Danantara sebagai pelaksana utama. Namun, di balik optimisme kerja sama lintas batas ini, satu isu vital masih menjadi ganjalan: kesepakatan harga yang hingga kini belum mencapai titik ‘win-win’ atau saling menguntungkan.

Penunjukan BPI Danantara, seperti diumumkan langsung oleh Presiden Prabowo dalam keterangan pers bersama, tidak hanya terbatas pada implementasi perdagangan listrik. Entitas ini juga diberi mandat untuk menggarap sektor perdagangan, ekonomi digital, ekosistem digital, hingga keamanan siber. "Indonesia telah menunjuk BPI Danantara untuk implementasi kerja sama perdagangan listrik lintas batas," ujar Prabowo, menandakan komitmen serius pemerintah.

Mega Proyek Listrik RI-Singapura: Harga Belum Win-Win!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Rosan Roeslani, CEO Danantara yang juga menjabat Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, menegaskan bahwa proyek ekspor listrik ini merupakan inisiatif jangka panjang yang telah digarap selama lebih dari empat tahun, bertujuan menciptakan dampak positif bagi kedua negara. "Tadi Bapak Presiden mengamanatkan untuk Danantara bersama-sama nanti dengan dunia usaha, dengan private sector untuk membangun, ini kan sudah lama sebenarnya, sudah empat tahun lah ya lebih. Untuk supaya kerja sama ini bisa terlaksana," terang Rosan.

Rosan memaparkan, potensi total ekspor listrik Indonesia ke Singapura bisa mencapai 3,4 gigawatt (GW). Namun, pada tahap awal, pengiriman akan dimulai dengan kapasitas antara 600 megawatt (MW) hingga 1,2 GW, yang kemudian akan ditingkatkan secara bertahap. Pembangkit listrik yang akan dibangun berlokasi di sekitar Batam, Bintan, dan Karimun, Kepulauan Riau, dengan fokus pada pemanfaatan energi terbarukan. Danantara telah menjalin kerja sama dengan tiga entitas, termasuk Singapore Energy Interconnections, Keppel Electric, dan Sembcorp Energy, di mana Keppel dan Sembcorp akan berperan sebagai off-taker atau pembeli listrik utama.

Meski proyek ini menunjukkan kemajuan signifikan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa aspek harga masih dalam tahap negosiasi alot. Bahlil menekankan pentingnya mencapai kesepakatan harga yang benar-benar ‘win-win’ bagi Indonesia. "Terkait dengan listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tapi kan kita masih menegosiasi tentang harga, dan regulasi kita kan memang harga itu ada di pemerintah. Kita pengin ada win-win, saling menguntungkan," ujar Bahlil usai pertemuan di Istana.

Saat dikonfirmasi lebih lanjut oleh Redaksibengkulu.co.id, Bahlil dengan tegas menyatakan bahwa harga yang ditawarkan saat ini "belum win-win." Ia enggan merinci besaran tawaran harga dari pihak Singapura, namun mengisyaratkan bahwa Indonesia tidak akan berkompromi pada harga yang dinilai belum menguntungkan. "Saya merasa belum win-win kalau sekarang harganya," tegas Bahlil.

Kendati demikian, Bahlil optimistis bahwa titik temu mengenai harga akan segera tercapai. Ia kembali menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus didasarkan pada prinsip saling menguntungkan. "Kalau sudah ada pembahasan, tapi saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu kok. Kita pengin semuanya harus punya manfaat yang, yang win-win lah untuk kedua belah pihak," pungkas Bahlil, menandakan harapan besar agar proyek strategis ini dapat segera terealisasi dengan skema yang adil bagi Indonesia.

Related Post