Redaksibengkulu.co.id – Indonesia menancapkan target ambisius dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan investasi fantastis senilai Rp 1.682 triliun akan mengalir ke sektor ini dalam satu dekade ke depan, sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2025-2034.
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa mayoritas dari target investasi jumbo tersebut, sekitar 70%, diharapkan berasal dari partisipasi sektor swasta. "Waktu itu Pak Menteri mengeluarkan keputusan Menteri untuk RUPTL 10 tahun itu kita harapkan investasi sampai dengan Rp 1.682 triliun dan ini 70%-nya dari swasta," ujar Eniya dalam gelaran EVolution Indonesia Forum di Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Realisasi investasi ini tidak hanya akan memperkuat infrastruktur energi hijau nasional, namun juga diprediksi akan menciptakan sekitar 760 ribu lapangan kerja baru. Eniya menekankan pentingnya ‘green jobs’ yang berkontribusi langsung pada kelestarian lingkungan hidup, sekaligus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dengan keahlian relevan. "Kita harapkan green jobs juga terdorong lahir dan kita memerlukan SDM-SDM yang punya skill yang baik," tambahnya.

Related Post
Komitmen pemerintah dalam mengakselerasi transisi energi semakin kokoh, terutama pasca diterbitkannya Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 10 Tahun 2025. Regulasi ini menjadi landasan kuat yang membuka pintu bagi berbagai sektor untuk terlibat, termasuk melalui teknologi co-firing, serta upaya pengurangan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan diesel. "Salah satu upaya di transisi ini, pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM sudah mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 10 (Tahun 2025), dan di sini kita bisa menggarisbawahi semua sektor itu bisa masuk," jelas Eniya.
Tak hanya merancang masa depan, Kementerian ESDM juga mencatat capaian signifikan sepanjang tahun 2025. Penambahan sumber energi hijau berhasil mencapai 1,3 gigawatt (GW), sebuah angka yang belum pernah tercapai sebelumnya dalam satu tahun. Prestasi ini mendorong porsi energi bersih dalam bauran energi nasional naik di atas 16% khusus untuk sektor ketenagalistrikan.
Capaian tersebut tidak hanya menunjukkan bahwa Indonesia berada di jalur yang tepat dalam pengembangan EBT, tetapi juga telah berkontribusi nyata dalam menurunkan emisi karbon. "Dengan adanya realisasi penambahan di sektor elektrifikasi ini, ini sudah membantu juga menurunkan emisi sebanyak 82,47 juta ton," pungkas Eniya, menegaskan optimisme pemerintah untuk mencapai target net zero emission pada tahun 2060.









Tinggalkan komentar