Menteri Dody Murka! Laporan Air Baik, Realita Sawah Kering

Author Image

Hadi Wibawa

27 September 2026, 14:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, secara mengejutkan melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah titik persawahan yang dilanda kekeringan parah di Jawa Barat pada Minggu (27/9/2026). Kunjungan ini mengungkap fakta mengejutkan: laporan ketersediaan air yang "baik" dari jajarannya, berbanding terbalik dengan kondisi riil di lapangan, di mana ribuan hektar sawah terancam gagal panen.

Dody menyatakan kekecewaannya mendalam atas temuan tersebut. "Saya ingin memastikan laporan yang disampaikan teman-teman sumber daya air benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan. Dari laporan, semuanya terlihat baik, tetapi ketika saya turun langsung, ternyata masih ada titik-titik kekeringan. Ini sangat saya sesalkan, karena sejak awal tahun saya sudah mengingatkan agar ketersediaan air untuk sawah dijaga," tegas Dody, menyoroti urgensi penanganan masalah ini yang dinilai lamban.

Menteri Dody Murka! Laporan Air Baik, Realita Sawah Kering
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Peninjauan pertama dilakukan di Desa Karangharja, Kecamatan Kebayuran, Kabupaten Bekasi. Di lokasi ini, saluran irigasi tersier ditemukan dalam kondisi tidak mengalir, padahal hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari areal persawahan terdapat sungai besar yang debit airnya masih terjaga. Kondisi ironis ini menjadi perhatian serius Dody, mengingat sumber air yang tersedia seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal.

Kunjungan berikutnya membawa Dody ke Desa Sukatani, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, dengan tantangan penanganan yang membutuhkan upaya lebih besar. Tak hanya itu, di titik ketiga, Desa Kedongdong, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, terdapat area persawahan seluas lebih dari 100 hektare yang juga sangat membutuhkan perhatian dalam penanganan kekeringan.

Dody menegaskan bahwa penanganan kekeringan tidak selalu harus menunggu pembangunan infrastruktur berskala besar. Untuk lokasi yang memiliki sumber air berdekatan dengan lahan pertanian, penambahan pompa dan pipa atau selang dapat menjadi solusi cepat untuk mengalirkan air ke jaringan irigasi.

"Sebetulnya banyak persoalan yang tidak terlalu rumit. Kalau sumber airnya ada, kita bisa memasang pompa dan menyalurkan air ke saluran irigasi. Kalau memang air harus dinaikkan dari sungai ke sawah, kita bisa menggunakan pompa. Yang penting, kita mau turun melihat langsung persoalan petani dan segera mengerjakannya," jelasnya, mendorong jajarannya untuk lebih proaktif dan solutif.

Untuk penanganan jangka panjang, Kementerian PU juga akan mengkaji pembangunan sumur bor dan embung pada lokasi yang memungkinkan. Di samping itu, pendataan kebutuhan air akan diperkuat dengan melibatkan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), sehingga penanganan dapat dilakukan berdasarkan kondisi riil yang dihadapi petani.

Menteri Dody menekankan keberpihakan kepada petani harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Ia meminta seluruh jajaran Kementerian PU, khususnya bidang sumber daya air, untuk lebih aktif turun ke lapangan, mengidentifikasi persoalan, dan mempercepat penanganan program serta anggaran yang tersedia, termasuk Inpres Irigasi dan program irigasi reguler.

"Target swasembada pangan 2026, insyaallah tetap kita kejar. Saya akan lebih fokus pada persoalan kekeringan. Kita tidak boleh mengabaikan kebutuhan air petani, karena dampaknya bukan hanya bagi masyarakat di satu daerah, tetapi bagi ketahanan pangan Indonesia. Kita harus hadir dan memastikan sawah-sawah mendapatkan air," pungkas Dody, menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Related Post