Redaksibengkulu.co.id – Insiden kebocoran pipa penyalur gas di Wilayah Kerja (WK) Rokan memicu reaksi keras dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Pemerintah kini memantau ketat proses pemulihan operasi setelah gangguan pada jaringan pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) ini berpotensi menghilangkan produksi minyak nasional hingga jutaan barel.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan kekhawatirannya atas insiden yang terjadi di awal tahun ini. "Di awal tahun ini mengalami ada sedikit musibah kecil di Sumatera, pipa kita bocor yang kehilangan potensi loss kurang lebih sekitar 2 juta barel di awal tahun," jelas Bahlil dalam keterangan tertulisnya pada Jumat (23/1). Ia menekankan bahwa Blok Rokan merupakan salah satu tulang punggung utama dalam pencapaian target lifting minyak nasional, sehingga dampak kebocoran ini sangat signifikan.
Tak hanya menyoroti kerugian produksi, Bahlil juga menegaskan akan adanya sanksi tegas. Ia menilai insiden kebocoran pipa migas ini mencerminkan adanya kelalaian dalam upaya pencegahan, sehingga langkah penegakan disiplin mutlak diperlukan guna mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari. "Saya akan langsung memberikan sanksi kepada pejabat yang ada di ESDM dan di BUMN terkait. Karena saya anggap itu sebuah betul terjadi kecelakaan, tapi ada sebuah ketidakikhtiaran dari kami," tegas Bahlil, mengindikasikan perlunya akuntabilitas.

Related Post
Menindaklanjuti arahan tersebut, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Laode Sulaeman segera turun tangan. Ia memimpin kunjungan kerja sekaligus rapat koordinasi teknis kelistrikan di Kantor Utama PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Rumbai, pada Jumat (23/1). Kunjungan ini bertujuan untuk memantau langsung dampak gangguan pasokan gas terhadap operasional pembangkit listrik PHR, sekaligus memastikan langkah-langkah mitigasi berjalan efektif dalam rangka mengamankan target produksi minyak dan gas bumi nasional.
Laode memuji upaya luar biasa yang telah dilakukan PHR di lapangan. "Kami melihat PHR telah melakukan upaya luar biasa di lapangan. Langkah pengalihan bahan bakar pembangkit (fuel switching) ke solar serta manajemen beban listrik dengan memprioritaskan sumur-sumur utama terbukti mampu menjaga ribuan sumur tetap berproduksi di tengah keterbatasan pasokan gas," ujarnya.
Produksi di Blok Rokan, lanjut Laode, kini mulai berangsur pulih. Namun, pemerintah akan tetap memberikan atensi tinggi agar produksi dapat segera kembali normal mengingat perannya yang krusial sebagai salah satu penyumbang terbesar produksi minyak nasional.
Sementara itu, Direktur Utama PHR Muhammad Arifin menegaskan bahwa seluruh jajaran PHR di lapangan tetap berada dalam kondisi siaga tinggi untuk menjaga keandalan operasi. PHR juga telah menyiapkan skema pemulihan (recovery plan) yang agresif untuk segera diimplementasikan setelah pasokan gas kembali normal. "Kami berterima kasih atas dukungan penuh dari Kementerian ESDM dan SKK Migas. Gangguan eksternal ini memang tantangan berat, namun ketangguhan operasi kami telah teruji. Kami optimis, dengan pulihnya pasokan energi, kami siap melakukan ramp-up produksi untuk mengejar target yang telah ditetapkan negara," ungkap Arifin. PHR memastikan bahwa seluruh langkah operasional selama masa pemulihan tetap mengedepankan aspek keselamatan kerja serta perlindungan lingkungan sebagai prioritas utama.









Tinggalkan komentar