Mimpi Besar RI: Stop Impor Bawang Putih dalam 3 Tahun!

Author Image

Hadi Wibawa

18 Juni 2026, 08:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Sebuah ambisi besar dicanangkan pemerintah Indonesia untuk mengakhiri dominasi impor bawang putih yang kini merajai 90% pasokan nasional. Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan, swasembada komoditas strategis ini telah masuk dalam agenda prioritas pangan nasional Presiden Prabowo Subianto, dengan target realistis tercapai dalam kurun waktu 3 hingga 4 tahun ke depan.

Namun, jalan menuju kemandirian ini tidak tanpa hambatan. Sudaryono menyoroti dua tantangan krusial: ketersediaan lahan dan pasokan bibit yang adaptif terhadap iklim domestik. Meskipun kebutuhan lahan untuk bawang putih, sekitar 100.000 hektare, relatif lebih kecil dibandingkan target swasembada beras, komoditas ini menuntut spesifikasi lahan di dataran tinggi.

Mimpi Besar RI: Stop Impor Bawang Putih dalam 3 Tahun!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Kita butuh setidaknya 3-4 tahun untuk bisa mencapai swasembada ini. Tantangan paling utamanya adalah ketersediaan lahan, dan juga khususnya lagi adalah ketersediaan bibit," ujar Wamentan Sudaryono dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Selatan, Rabu kemarin. Lokasi potensial sudah teridentifikasi di beberapa wilayah seperti Sembalun (Nusa Tenggara Barat), Temanggung, dan Humbang Hasundutan, menunjukkan bahwa pencarian lokasi spesifik menjadi kunci.

Isu bibit menjadi ganjalan yang lebih kompleks. Indonesia, yang telah lama bergantung pada impor, praktis tidak memiliki ketersediaan bibit bawang putih yang memadai. Wamentan menjelaskan, mengimpor bibit dalam skala 100.000 hektare adalah hal yang mustahil, baik karena keterbatasan pasokan dari negara asal maupun perlunya adaptasi bibit terhadap kondisi iklim Indonesia. Bibit yang berhasil didatangkan pun harus melalui proses penangkaran oleh petani lokal di bawah bimbingan Ditjen Hortikultura agar dapat tumbuh optimal.

"Kan selama ini negara kita ini impor, yang kita makan itu impor. Maka untuk bisa tanam butuh bibit. Bibit itu misalnya kita impor dari mana lah, dari negara lain, misalnya mengimpor bibit dari China kan kita tidak mungkin impor bibit untuk 100 ribu hektare, tidak mungkin," jelas Sudaryono. "Satu karena memang negara asal tidak akan mengizinkan mengirim bibit sebanyak itu. Pasti dikirim bibitnya sedikit, nah sedikit itu harus ditangkar. Ditangkar oleh petani kita, di bawah binaannya Ditjen Hortikultura. Kemudian kenapa harus ditangkar, selain jumlahnya tidak cukup, juga harus ditangkar, disesuaikan dengan iklim kita," tambahnya.

Strategi Bertahap dan Alokasi Anggaran

Untuk mewujudkan ambisi ini, Kementerian Pertanian telah menyusun strategi bertahap. Tahap awal di tahun ini menargetkan penanaman di lahan seluas 25.000 hektare; 5.000 hektare didanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sementara 20.000 hektare lainnya akan didukung oleh BUMN dan swasta.

Anggaran dari APBN untuk pembibitan diperkirakan mencapai sekitar Rp 75 juta per hektare, sehingga untuk target awal 5.000 hektare, dana yang dialokasikan mendekati Rp 375 miliar hingga Rp 400 miliar. "5 ribu hektare ya, jadi kira-kira Rp 75 juta kali 5 ribu hektare berapa itu? Rp 75 juta kali 5 ribu hektare, sekitar Rp 400 miliaran lah," tegasnya.

Kementan juga menggandeng berbagai pihak, mulai dari Asosiasi Petani Bawang, BUMN pangan seperti ID FOOD dan Bulog yang akan berperan sebagai off-taker hasil pembibitan, hingga PTPN yang siap mengalokasikan lahan-lahan di dataran tinggi untuk penanaman.

Menariknya, hasil panen pada tahap awal ini tidak serta-merta akan langsung dikonsumsi. Sudaryono menjelaskan, bawang putih yang dihasilkan akan diprioritaskan untuk menghasilkan bibit baru, bukan untuk konsumsi pasar. Strategi ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan bibit yang cukup guna menanam di seluruh target 100.000 hektare. Pengurangan impor bawang putih baru akan dilakukan secara bertahap, seiring dengan peningkatan produksi bibit dan hasil panen dalam negeri.

"Sembari berjalan ini nanti kuota impornya InsyaAllah akan terus kita, sambil kita kurangi dengan mendorong produktivitas dalam negeri kita," pungkas Sudaryono. Wamentan berharap, dengan program yang terencana ini, ketergantungan Indonesia terhadap impor bawang putih dapat ditekan secara signifikan, membuka jalan menuju kemandirian pangan nasional.

Related Post