Redaksibengkulu.co.id – Penjualan sepeda motor listrik di Indonesia mengalami penurunan drastis. Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli), Budi Setiyadi, mengungkapkan bahwa hingga Agustus 2026, hanya 18.900 unit yang berhasil terjual. Angka ini jauh di bawah ekspektasi dan performa tahun-tahun sebelumnya, dengan Budi menunjuk ketidakpastian kebijakan subsidi pemerintah sebagai biang kerok utama.
Dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VII DPR pada Senin (21/9/2026), Budi memaparkan data yang mengkhawatirkan. Ia menjelaskan, pada tahun 2024, pasar motor listrik sempat bergairah dengan penjualan mencapai 77.000 unit, didorong oleh adanya subsidi. Bahkan pada tahun 2025, meskipun tanpa dukungan subsidi, penjualan masih mampu menyentuh angka sekitar 70.000 unit. Namun, kondisi berbalik 180 derajat di tahun 2026.

"Di tahun 2026, sampai dengan bulan Agustus, kami sekarang ini baru sekitar 18.900. Jadi sangat turun sekali," ujar Budi. Ia menegaskan bahwa fluktuasi kebijakan pemerintah terkait subsidi telah sangat mengganggu industri. "Masyarakat juga banyak yang menunggu kapan untuk subsidi akan diberikan," tambahnya, menggambarkan bagaimana ketidakjelasan ini membuat konsumen menunda pembelian.
Also Read
Budi menyoroti bahwa pada awal tahun, pemerintah sempat menyampaikan rencana pemberian subsidi motor listrik untuk tahun 2026. Bahkan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya pernah mengisyaratkan besaran subsidi sekitar Rp 3 juta per unit. "Namun sampai dengan bulan September, ini juga belum ada kabarnya. Jadi sangat juga menghambat menyangkut masalah penjualan sepeda motor listrik yang ada di Indonesia sekarang ini," keluhnya.
Selain masalah subsidi yang tak kunjung jelas, Budi juga mengidentifikasi beberapa hambatan lain yang menghambat laju pertumbuhan pasar motor listrik. Ini termasuk ketersediaan fasilitas pengisian daya yang masih terbatas, jaringan bengkel dan layanan purna jual yang belum merata, serta tantangan dalam aspek pembiayaan. "Masyarakat banyak yang menanyakan kalau kemudian menggunakan sepeda motor listrik, kalau rusak nanti akan perbaikan di mana," jelasnya, menyoroti kekhawatiran konsumen.
Terkait pembiayaan, Budi mengakui bahwa meskipun beberapa bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menyatakan kesiapan untuk mendukung pendanaan motor listrik, implementasinya di lapangan masih jauh dari harapan. "Dalam implementasi sampai dengan sekarang kita juga masih mengalami hambatan," pungkas Budi, menggambarkan kompleksitas tantangan yang dihadapi industri motor listrik di Tanah Air.




